Komunitas Kristen Palestina Hadapi Ancaman Eksistensi di Tengah Peningkatan Kekerasan dari Pemukim Israel

0
Kristen
Ilustrasi Umat ​​Kristen mengangkat tangan mereka dalam pemujian dan berdoa. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, BETLEHEM – Di gang-gang sempit Beit Jala, sebuah kota kuno di sebelah barat Betlehem, gema doa dalam bahasa Aram bahasa yang digunakan pada masa awal Kekristenan kini terdengar kian redup. Salah satu komunitas Kristen tertua di dunia, yang telah bertahan sejak abad ke-3, kini menghadapi ancaman eksistensial akibat gelombang kekerasan dan perebutan tanah yang kian masif di wilayah Tepi Barat.

Laporan dari Middle East Monitor pada Selasa (27/1/2026) melukiskan potret suram di kota-kota bersejarah yang menjadi saksi bisu lahirnya Kekristenan kini terancam lenyap dari peta sejarah.

“Beit Jala, sebuah kota Kristen Palestina dekat Betlehem yang dihuni sekitar 11.000 umat Kristen dengan akar komunitas berbahasa Aram, kini menghadapi gelombang emigrasi akibat perebutan tanah oleh pemukim dan ancaman terhadap keberadaan mereka,” tulis sebuah media Katolik Palestina melalui akun X, menggambarkan situasi terkini di sana.

Baca Juga :  Kementerian Luar Negeri RI: Rencana Pengiriman Pasukan ke Gaza Masih Dalam Tahap Pembahasan

Tekanan ini bukan sekadar angka statistik, melainkan luka nyata. Di Birzeit, utara Ramallah, kesunyian akhir pekan pecah oleh serangan pemukim Israel. Najat Emil Jadallah, seorang wanita Kristen Palestina berusia 62 tahun, menjadi simbol kerentanan komunitas ini setelah ia menderita luka kepala serius akibat diserang di properti pribadinya.

Uskup Dr. Imad Haddad dari Gereja Lutheran Injili di Yordania dan Tanah Suci mengecam keras insiden tersebut. Menurutnya, ketika keluarga korban mencoba membela diri, intervensi aparat justru terasa timpang.

Baca Juga :  Israel Hancurkan Gedung UNRWA di Yerusalem Timur, Kecaman Global Menguat

“Para pemukim menerobos masuk ke properti pribadi, menyerang seorang wanita dan keluarganya. Ini adalah pelanggaran berat terhadap hak-hak sipil,” kata Haddad dalam pernyataan publiknya.

Haddad mengungkapkan bahwa selain kekerasan fisik, para pemukim juga mencabut pohon-pohon di lahan milik gereja, sebuah tindakan yang menghantam akar ekonomi warga. Ia pun menyerukan solidaritas dunia untuk menghentikan ketidakadilan ini.

“Kami berdiri dalam solidaritas doa bersama keluarga korban dan seluruh komunitas yang terdampak ketidakadilan serius ini,” ujarnya. “Kami menyerukan pertanggungjawaban nyata bagi mereka yang melakukan dan memungkinkan kekerasan.”

Secara historis, keberadaan umat Kristen di Palestina telah terdokumentasi sejak abad ke-4 oleh Eusebius dari Caesarea. Namun, warisan berusia 1.600 tahun ini kini berada di titik nadir. Sejarawan Dr. Salman Abu Sitta mencatat bahwa pola penghancuran desa-desa kuno pasca-Nakba 1948 terus berlanjut hingga hari ini, mengancam identitas Kristen dan Muslim secara bersamaan.

Baca Juga :  Anggota Komisi I DPR Tegaskan Syarat Mutlak untuk Indonesia Jalin Hubungan dengan Israel

Pembatasan akses ke kebun zaitun dan lahan pertanian di sekitar Beit Jala kini memicu arus migrasi keluar yang mengkhawatirkan. Tanpa adanya perlindungan internasional, komunitas yang telah melintasi berbagai zaman ini dikhawatirkan hanya akan menjadi catatan kaki dalam buku sejarah.

Haddad pun menutup pesannya dengan desakan kuat untuk mengakhiri budaya kebal hukum. “Kami menyerukan pertanggungjawaban nyata bagi mereka yang melakukan dan memungkinkan kekerasan,” tegasnya.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com