NARASITODAY.COM, WASHINGTON – Amerika Serikat tengah menghadapi salah satu awal tahun paling mematikan. Setidaknya 30 orang dilaporkan tewas setelah badai musim dingin dahsyat dan suhu dingin ekstrem menyapu wilayah dari Texas hingga New England.
Hingga Senin (26/1/2026), hampir 200 juta penduduk AS lebih dari separuh populasi negara tersebut berada dalam status siaga tinggi. Di bawah langit yang kelabu, kota-kota besar yang biasanya sibuk mendadak berubah menjadi hamparan salju yang sunyi dan mematikan.
Jejak Tragedi di Tengah Salju
Korban jiwa tersebar di berbagai negara bagian dengan kisah yang memilukan. Di Texas, keceriaan musim dingin berubah menjadi tragedi saat seorang remaja tewas dalam kecelakaan seluncur salju. Di New York City, kekejaman suhu di bawah nol derajat merenggut nyawa delapan orang yang ditemukan tak bernyawa di luar ruangan.
Gubernur Mississippi, Tate Reeves, mengonfirmasi dua kematian di wilayahnya, sementara korban lainnya dilaporkan di Arkansas, Kansas, Tennessee, hingga North Carolina, di mana seorang pria ditemukan meninggal di jalan raya yang membeku.
Kegelapan dan Kelumpuhan Total
Badai ini tidak hanya membawa salju, tetapi juga hujan beku yang merusak infrastruktur. Lebih dari 670.000 pelanggan terpaksa bertahan hidup tanpa aliran listrik di tengah suhu ekstrem setelah pepohonan yang tumbang menghancurkan jaringan kabel.
Kehidupan publik nyaris berhenti total. Sekolah-sekolah dan universitas, termasuk Universitas Mississippi, menutup pintu mereka. Di New York dan Washington, aktivitas belajar dialihkan ke metode jarak jauh. Di bandara, kekacauan terjadi dengan pembatalan lebih dari 10.500 penerbangan pada hari Minggu, disusul 5.000 pembatalan lainnya pada hari Senin.
Ancaman Belum Berakhir
Layanan Cuaca Nasional (NWS) memberikan peringatan yang tidak kalah mengerikan. Udara dingin yang menusuk tulang diperkirakan akan terus menyebar ke dua pertiga wilayah timur AS, membawa suhu minimum di bawah nol yang berpotensi memecahkan rekor sejarah.
“Angin dingin berbahaya akan terus terjadi dan suhu jauh di bawah normal dapat bertahan hingga awal Februari,” tulis pernyataan resmi NWS.
Meski salju mulai berhenti di wilayah tengah, wilayah New England masih terus dihujani butiran putih hingga ketebalan lebih dari 20 inci. NWS juga mewaspadai adanya potensi badai musim dingin signifikan lainnya yang mungkin kembali menghantam wilayah timur pada akhir pekan mendatang.
Warga kini diimbau untuk tetap berada di dalam rumah dan menjaga suhu tubuh, karena bagi banyak orang, musim dingin kali ini bukan lagi sekadar pemandangan indah, melainkan ancaman nyata bagi keselamatan jiwa.***
Editor : Alysa
Sumber : cnnindonesia.com













