NARASITODAY.COM, WASHINGTON – Suasana di lorong-lorong Capitol Hill pada Senin (2/2/2026) terasa lebih tegang dari biasanya. Di balik pintu-pintu kayu ek yang berat, para anggota DPR AS tengah berpacu dengan waktu untuk mengakhiri penutupan pemerintah (government shutdown) parsial yang telah memasuki hari ketiga.
Meskipun status pemerintah sedang “mati suri” sejak Sabtu (31/1/2026), denyut nadi Washington tidak sepenuhnya berhenti. Di pangkalan-pangkalan militer dan menara pengawas lalu lintas udara, para pekerja esensial tetap menjalankan tugas mereka meski tanpa jaminan payung pendanaan yang pasti.
Menanti Ketukan Palu Selasa
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS dijadwalkan membahas legislasi krusial hari ini untuk memulihkan pendanaan bagi Pentagon, Departemen Transportasi, dan lembaga lainnya. Pemungutan suara final diperkirakan baru akan berlangsung pada Selasa (3/2/2026).
Berbeda dengan drama penutupan rekor 43 hari pada akhir 2025 lalu, penutupan kali ini diprediksi hanya akan menjadi ganjalan singkat dalam lembaran sejarah birokrasi Amerika. Menurut data Congressional Research Service, sejak 1977, AS telah mengalami 10 kali kekosongan pendanaan berdurasi tiga hari atau kurang yang relatif tidak melumpuhkan aktivitas publik secara masif.
Taruhan Politik dan Bayang-bayang Tragedi
Meski Senat telah memberikan lampu hijau dengan dukungan bipartisan yang luas pada Jumat lalu, jalan di DPR masih berlubang. Margin tipis kursi Partai Republik (218 berbanding 213) membuat setiap suara menjadi sangat berharga, terutama dengan rencana pelantikan Christian Menefee dari Texas yang akan menambah kekuatan Demokrat.
Namun, hambatan bukan sekadar angka, melainkan isu kemanusiaan yang mendalam. Sebagian anggota Demokrat enggan menyetujui kesepakatan yang dirancang Presiden Donald Trump dan Senat. Mereka menuntut ruang negosiasi lebih luas terkait batasan wewenang agen federal dalam kebijakan imigrasi.
Sentimen ini kian memanas menyusul tragedi bulan lalu di Minnesota, di mana agen Departemen Keamanan Dalam Negeri menewaskan dua warga AS. Insiden tersebut meninggalkan luka publik yang belum kering dan menjadi senjata politik di meja perundingan.
Kutipan Utama
Di tengah ketidakpastian ini, para pemimpin Partai Republik terus mendorong percepatan prosedur. Wakil Tom Emmer dari Minnesota, tokoh nomor tiga Partai Republik di DPR, menegaskan jadwal krusial tersebut:
“DPR dijadwalkan melakukan pemungutan suara atas kesepakatan tersebut pada Selasa,” ujarnya singkat.
Sebuah komite DPR dijadwalkan meninjau kesepakatan pendanaan hari ini, dengan perdebatan yang diprediksi akan terus bergulir hingga larut malam di bawah lampu-lampu ruang sidang yang tidak pernah padam.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber














