NARASITODAY.COM, JAKARTA – Ambisi besar Indonesia untuk lepas dari ketergantungan batu bara memasuki babak baru yang penuh kehati-hatian. Setelah kabar mengejutkan mengenai pembatalan pensiun dini PLTU Cirebon-1 di penghujung 2025, pemerintah kini mengalihkan pandangan ke target-target baru. Sebanyak 15 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) kini masuk dalam radar “suntik mati” karena dianggap sebagai penyumbang emisi karbon tertinggi.
Langkah ini menjadi bukti bahwa pemerintah tengah melakukan kurasi ketat yaitu. mempertahankan yang efisien, dan segera menyudahi masa bakti pembangkit yang sudah renta dan tak ramah lingkungan.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, menegaskan bahwa identifikasi terhadap 15 kandidat PLTU ini telah dilakukan. Fokus utamanya adalah memangkas sumber emisi tanpa membuat sistem kelistrikan nasional goyah.
“Kementerian ESDM sudah mengidentifikasi ada 15 PLTU dengan kontribusi emisi yang cukup tinggi,” ujar Yuliot saat ditemui di Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Namun, mematikan sakelar pembangkit besar bukanlah perkara mudah. Pemerintah harus memastikan bahwa sebelum sebuah PLTU berhenti beroperasi, sudah ada energi pengganti yang siap menyala agar pasokan listrik ke masyarakat tidak terganggu.
“Jadi ya nanti bagaimana mekanismenya itu kan harus disepakati antar pemerintah. Karena kalau early retirement itu juga harus melihat batasan pada saat retirement, itu justru sudah ada pembangkit yang menggantikan, sesuai dengan kapasitas yang ada,” tambah Yuliot.
Keputusan untuk membidik 15 target baru ini tak lepas dari evaluasi terhadap PLTU Cirebon-1. Sebelumnya, pembangkit berkapasitas 1 x 660 MW tersebut sempat digadang-gadang akan pensiun pada 2035 tujuh tahun lebih cepat dari jadwal semula.
Namun, pada Desember 2025, pemerintah menganulir rencana tersebut. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menjelaskan bahwa Cirebon-1 masih “terlalu bagus” untuk dimatikan lebih awal karena teknologi super critical yang dimilikinya mampu menekan emisi secara efektif dibandingkan pembangkit tua lainnya.
“Jadi salah satunya ada pertimbangan teknik, karena Cirebon itu salah satunya yang umurnya masih panjang, dan teknologinya juga sudah critical, super critical, dan relatif, itu lebih baik sehingga nanti dicarikan alternatif lain yang usianya lebih tua,” jelas Airlangga dalam keterangannya akhir tahun lalu.
Meski daftar 15 PLTU kandidat tersebut sudah dikantongi, pemerintah masih menutup rapat rincian lokasi dan nama pembangkitnya. Proses kajian teknis dan lobi antarkementerian terus digodok demi memastikan transisi energi berjalan mulus.
Targetnya jelas yaitu mencari pengganti yang lebih mendesak untuk dipensiunkan daripada Cirebon-1. Sebagaimana ditegaskan Airlangga, penggantinya adalah pembangkit-pembangkit “uzur” yang dampak lingkungannya sudah tidak bisa ditoleransi lagi. “Penggantinya nanti ada PLTU yang lebih tua, karena banyak PLTU yang tua. Nanti kita tanya PLN,” tandasnya.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













