
NARASITODAY.COM, HAVANA – Di sudut-sudut jalan Havana, lampu-lampu kota yang kian meredup dan antrean panjang di SPBU menjadi pemandangan harian yang menyesakkan. Saat Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump berusaha menutup seluruh keran energi ke pulau komunis tersebut, Moskow justru muncul sebagai “napas” buatan bagi Kuba.
Rusia secara tegas menyatakan komitmennya untuk terus mengirimkan minyak ke Kuba, meskipun Washington mengancam akan menjatuhkan sanksi berat bagi negara mana pun yang membantu Havana.
Komitmen Moskow di Tengah Tekanan
Duta Besar Rusia untuk Kuba, Viktor Coronelli, menegaskan bahwa bantuan energi bukanlah hal baru dalam hubungan kedua negara. Dalam wawancara dengan kantor berita RIA, ia memastikan pasokan akan tetap mengalir.
“Kami mengasumsikan bahwa praktik ini ekspor minyak ke Kuba akan berlanjut,” tegas Coronelli pada Kamis (5/2/2026).
Langkah Rusia ini menjadi tantangan langsung bagi kebijakan Presiden Donald Trump. Sebelumnya, Trump telah melabeli Kuba sebagai “ancaman besar yang tak biasa” bagi keamanan nasional AS dan mengancam akan mengenakan tarif bagi negara mana pun yang nekat mengirimkan minyak ke sana.
Peringatan Keruntuhan Kemanusiaan
Blokade total yang diterapkan AS, termasuk pemutusan aliran dari Venezuela pasca-penangkapan Presiden Nicolás Maduro bulan lalu, telah membawa Kuba ke titik nadir. Pemadaman listrik berkepanjangan kini melumpuhkan ibu kota, memicu lonjakan harga pangan, dan mencekik sektor transportasi.
Kondisi kritis ini memancing reaksi keras dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengeluarkan peringatan serius mengenai potensi bencana kemanusiaan di wilayah Karibia tersebut.
“Sekretaris Jenderal sangat menaruh perhatian terhadap situasi kemanusiaan di Kuba, yang akan memburuk, jika tidak kolaps, jika kebutuhan minyak tak terpenuhi,” ujar juru bicara PBB, Stephane Dujarric.
Akar Perseteruan Enam Dekade
Krisis ini merupakan babak terbaru dari perseteruan panjang yang bermula sejak Revolusi Kuba 1959. Embargo penuh yang diterapkan AS sejak 1962 hingga kini terus menjadi ganjalan utama bagi ekonomi Kuba.
Dujarric mengingatkan bahwa selama lebih dari tiga dekade, Majelis Umum PBB secara konsisten menyerukan pengakhiran embargo tersebut.
“Sekretaris Jenderal mendesak semua pihak untuk mengupayakan dialog dan penghormatan terhadap hukum internasional,” tambahnya melalui laporan Al Jazeera.
Kini, dengan pasokan dari Venezuela yang semakin tidak menentu dan tekanan dari Gedung Putih yang menguat, peran Rusia menjadi krusial dalam menentukan apakah Kuba akan mampu bertahan dari ancaman “keruntuhan kemanusiaan” atau justru semakin terperosok dalam kegelapan.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













