NARASITODAY.COM, CARACAS – Jalanan di ibu kota Caracas berubah menjadi lautan manusia pada Selasa (3/2/2026). Ribuan warga turun ke jalan, tidak untuk merayakan sesuatu, melainkan untuk meluapkan kemarahan dan kesedihan atas penahanan Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, oleh pemerintah Amerika Serikat.
Di bawah terik matahari, para demonstran yang terdiri dari berbagai elemen pekerja sektor publik memenuhi jalan hingga ratusan meter. Diiringi dentuman musik dari truk-truk orator, mereka meneriakkan tuntutan agar Presiden AS Donald Trump segera melepaskan pemimpin mereka.
Aksi ini merupakan puncak dari “hari aksi global” yang diserukan rakyat Venezuela. Banyak dari mereka mengenakan kaus bergambar wajah Maduro dan membawa spanduk besar bertuliskan kecaman terhadap tindakan Washington yang dianggap sebagai pelanggaran hukum internasional.
Putra Maduro, Nicolas Maduro Guerra, turut menyuarakan kepedihan rakyat dalam sebuah pernyataan emosional.
“Tanah air kita dinodai oleh angkatan bersenjata asing,” tegas Guerra, merujuk pada penangkapan ayahnya pada 3 Januari lalu.
Suasana haru dan amarah berpadu di tengah kerumunan. Jose Perdomo (58), salah satu peserta aksi, menggambarkan kegelisahan yang menyelimuti warga.
“Kami merasa bingung, sedih, marah. Banyak emosi yang kami rasakan. Baik sekarang atau nanti, mereka harus membebaskan presiden kami,” ujarnya kepada media.
Sebagaimana dilaporkan Al Jazeera, Maduro dan Flores saat ini mendekam di penjara AS setelah ditangkap dalam operasi militer bulan lalu. Washington menuduh Maduro memimpin kartel narkoba dan memfasilitasi penyelundupan barang haram ke Amerika Serikat tuduhan yang secara konsisten dibantah oleh Maduro.
Bagi para demonstran, penangkapan ini bukan sekadar urusan hukum, melainkan serangan terhadap kedaulatan negara. Yel-yel dukungan terus bergema di pusat kota:
“Venezuela butuh Nicolas!” teriak massa, sementara banner lain bertuliskan “Mereka diculik. Kembalikan mereka!”
Saat ini, Venezuela dipimpin oleh Presiden Interim Delcy Rodriguez. Di tengah desakan massa, Rodriguez mencoba mengambil jalan tengah yang rumit. Ia berupaya menjalin diplomasi dengan AS dengan membebaskan tahanan politik dan membuka sektor minyak (hidrokarbon) untuk investasi swasta demi menyelamatkan ekonomi negara yang terguncang.
Donald Trump sendiri menyatakan kesediaannya bekerja sama dengan pemerintahan Rodriguez, namun dengan syarat yang sangat ketat. Venezuela harus tunduk pada tuntutan AS, terutama terkait pengelolaan sumber daya minyak Caracas yang melimpah.***
Sumber : cnnindonesia.com














