NARASITODAY.COM, RIYADH – Geliat persiapan menyambut bulan suci Ramadan mulai terasa di seluruh dunia Islam. Di tengah penantian umat akan kepastian tanggal, para ahli astronomi di Timur Tengah mulai merilis prediksi mereka mengenai jatuhnya hari pertama puasa yang diperkirakan akan menyapa dengan cuaca yang lebih sejuk tahun ini.
Departemen Astronomi dan Ilmu Antariksa di Universitas King Abdulaziz, salah satu lembaga paling senior di Arab Saudi, memperkirakan bahwa 1 Ramadan 1447 Hijriah akan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Prediksi ini menjadi panduan penting bagi warga dalam menyusun agenda ibadah mereka.
Sains di Balik Penentuan Bulan Suci
Penentuan awal Ramadan di Kerajaan Arab Saudi dikenal unik karena menggabungkan metode hisab wujudul hilal (perhitungan matematis) dan metode rukyat (pengamatan mata telanjang). Melalui laman resminya, Departemen Astronomi Universitas King Abdulaziz memberikan estimasi berdasarkan data terkini.
“Diperkirakan akan dimulai pada hari Kamis, 19 Februari, menurut pengamatan yang dilakukan oleh Departemen Astronomi dan Ilmu Antariksa di Universitas King Abdulaziz,” tulis laman timesofriyadh.com.
Meskipun perhitungan astronomi memiliki akurasi yang tinggi melalui pengamatan fase bulan, kepastian final tetap bergantung pada keputusan pemerintah sehari sebelum puasa dimulai.
“Jika prediksi tersebut terbukti tidak akurat, perbedaannya kemungkinan tidak akan melebihi satu atau dua hari – masih memberi Anda banyak waktu untuk merencanakan jadwal Anda sebelumnya,” tambah laporan tersebut.
Durasi Singkat dan Suhu Sejuk
Senada dengan kolega di Saudi, Ibrahim Al Jarwan selaku Presiden Masyarakat Astronomi Emirat, juga memprediksi tanggal yang sama melalui laman Al Arabiya. Ia memproyeksikan bulan sabit Ramadan muncul pada Selasa, 17 Februari, dan menghilang sesaat setelah matahari terbenam.
Jika Ramadan kali ini berlangsung selama 29 hari, maka Idul Fitri diperkirakan akan jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.
Ada kabar menggembirakan bagi umat muslim yang menjalankan puasa di wilayah Teluk tahun ini. Durasi puasa di Arab Saudi diperkirakan akan terasa lebih singkat, yakni berkisar antara 12 hingga 13 jam. Selain itu, posisi kalender yang jatuh pada bulan Februari membuat suhu udara diperkirakan akan jauh lebih sejuk dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang sering kali bertepatan dengan puncak musim panas.
Peran Universitas King Abdulaziz dalam penentuan ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebagai departemen khusus tertua di bidangnya, lembaga ini didirikan sebagai pilar utama untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan antariksa.
Tujuannya selaras dengan visi modern Saudi: “mempersiapkan generasi yang ambisius untuk memimpin dan memajukan disiplin ilmu ini.” Dengan perpaduan antara ketetapan syariat dan kecanggihan teknologi, jutaan umat kini tinggal menunggu pengumuman resmi dari otoritas terkait sembari mempersiapkan diri menyambut bulan penuh berkah.***
Editor : Alysa
Sumber : cnnindonesia.com













