NARASITODAY.COM, DEN HAAG – Hashim Thaci, pria yang pernah menjadi simbol kemerdekaan Kosovo, kini berdiri di ambang hukuman seumur hidup. Jaksa penuntut kejahatan perang internasional di Den Haag resmi menuntut mantan Presiden Kosovo tersebut dengan hukuman 45 tahun penjara atas tuduhan memimpin kampanye kekerasan brutal selama pemberontakan tahun 1998-1999.
Persidangan yang telah berjalan selama hampir tiga tahun ini memasuki babak akhir yang mencekam. Thaci, yang kini berusia 57 tahun, dituduh bersama tiga mantan komandan Tentara Pembebasan Kosovo (KLA) lainnya melakukan penganiayaan, pembunuhan, dan penghilangan paksa terhadap lawan politik serta warga sipil.
Perebutan Kuasa di Tengah Bara Konflik
Dalam pernyataan penutupnya, Jaksa Kimberly West memaparkan gambaran kelam mengenai operasional KLA di bawah kendali Thaci. Ia menyebut bahwa ratusan orang disiksa di sekitar 50 kamp penahanan untuk memastikan kendali penuh atas wilayah mayoritas etnis Albania tersebut.
“Para terdakwa melakukan kejahatan terhadap lawan yang mereka persepsikan untuk mengambil kendali atas Kosovo,” ujar West di hadapan pengadilan, sebagaimana dikutip dari Reuters, Senin (9/2/2026).
Jaksa menekankan bahwa kejahatan ini bukan sekadar dampak perang, melainkan upaya sistematis untuk menyingkirkan siapa pun yang dianggap sebagai penghalang termasuk anggota etnis Albania sendiri yang mencakup 90% populasi.
“Kasus ini adalah tentang tujuan keempat terdakwa untuk mendapatkan dan menjalankan kekuasaan atas seluruh wilayah Kosovo,” tegas West.
Antara Pahlawan dan Pesakitan
Hashim Thaci memiliki rekam jejak politik yang gemilang, mulai dari menjabat Perdana Menteri hingga Presiden pada periode 2008-2020. Namun, di ruang sidang Den Haag, citra pahlawan pembebasan itu ditanggalkan. Pihak jaksa menudingnya bertanggung jawab atas tewasnya lebih dari 100 orang yang dianggap berkolaborasi dengan pasukan Serbia.
Di sisi lain, Thaci dan rekan-rekannya secara tegas membantah seluruh dakwaan. Tim pengacaranya berargumen bahwa struktur KLA pada saat itu sangat terdesentralisasi, sehingga Thaci tidak memiliki otoritas nyata atas tindakan para komandan di lapangan.
Dilema Keadilan di Kosovo
Persidangan ini memicu perdebatan sengit di tanah air Thaci. Bagi banyak warga Kosovo, KLA adalah barisan pahlawan yang mengakhiri penindasan Serbia. Mereka memandang Kamar Khusus Kosovo yang diisi hakim internasional namun beroperasi di bawah hukum Kosovo sebagai lembaga yang bias.
Kini, dunia menanti hari Rabu mendatang saat tim pengacara Thaci menyampaikan pernyataan penutup mereka. Apakah Thaci akan mengakhiri masa tuanya di balik jeruji besi atau kembali ke negaranya sebagai orang bebas, keputusan ini akan menjadi tonggak sejarah baru bagi rekonsiliasi di wilayah Balkan.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














