NARASITODAY.COM, BOGOTA – Langit malam di pesisir Karibia Kolombia yang biasanya tenang berubah menjadi arena pelarian yang menegangkan pada Senin (9/2/2026). Presiden Gustavo Petro mengungkapkan bahwa dirinya nyaris menjadi sasaran pembunuhan saat helikopter kepresidenan yang ditumpanginya terpaksa melakukan manuver drastis demi menghindari ancaman serangan udara.
Dalam sebuah rapat kabinet yang disiarkan langsung pada Selasa (10/2/2026), pemimpin sayap kiri pertama Kolombia itu menceritakan bagaimana informasi intelijen mengenai rencana penembakan pesawatnya memaksa rute penerbangan diubah total di tengah kegelapan.
Informasi kredibel menyebutkan adanya pihak yang telah bersiap untuk “menembaki” helikopter kepresidenan saat hendak mendarat di tujuan semula. Menghadapi risiko maut, pilot segera membawa pesawat terbang menjauh ke arah laut lepas. Selama empat jam, helikopter tersebut “bersembunyi” di atas samudera sebelum akhirnya mencapai lokasi yang benar-benar aman.
Hingga saat ini, Petro belum mengungkap siapa dalang di balik upaya tersebut. Namun, bayang-bayang kartel narkoba dan kelompok bersenjata ilegal seperti pembangkang FARC, ELN, hingga Gulf Clan terus menghantui pemerintahannya.
“Kami percaya tersangka bertindak sendirian. Saat ini masih terlalu dini untuk berspekulasi mengenai motif,” ujar sumber keamanan, merujuk pada pola umum di mana kelompok-kelompok ini sering menargetkan pejabat publik.
Tragedi ini terjadi di tengah atmosfer politik yang pekat di Kolombia. Luka bangsa tersebut belum kering setelah senator sekaligus kandidat presiden Miguel Uribe Turbay tewas ditembak Juni lalu. Ancaman terhadap Petro sendiri bukanlah hal baru; mulai dari penemuan senjata anti-tank di dekat istana hingga laporan rencana penggunaan rudal darat-ke-udara pernah mewarnai masa jabatannya.
Ironisnya, ancaman pembunuhan ini muncul hanya beberapa hari setelah Gustavo Petro melakukan kunjungan bersejarah ke Amerika Serikat. Di Washington, ia bertemu dengan Presiden Donald Trump dalam pertemuan yang disebut “sangat hangat,” mengakhiri ketegangan panjang antara kedua pemimpin terkait kebijakan narkoba.
Donald Trump, yang sebelumnya sempat melontarkan kritik pedas terhadap Petro, tampak melunak setelah pertemuan dua jam tersebut.
“Dia dan saya sebenarnya tidak terlalu bersahabat sebelumnya, tapi saya tidak tersinggung karena saya belum pernah bertemu dengannya. Saya sama sekali tidak mengenalnya,” kata Trump dalam sebuah acara di Ruang Oval. “Kami mengadakan pertemuan yang sangat baik. Saya pikir dia luar biasa.”
Petro pun menyambut baik perubahan nada tersebut, menyatakan bahwa pertemuannya dengan Trump didasari oleh optimisme dan nilai-nilai bersama.
“Yang menyatukan kami adalah kebebasan dan dari situlah pertemuan itu dimulai,” ujar Petro dalam konferensi pers terpisah.
Namun, kembalinya Petro ke Kolombia langsung disambut oleh realitas pahit di tanah airnya. Di balik senyum diplomatik di Gedung Putih, bahaya nyata masih mengintai di setiap sudut pegunungan dan pantai Kolombia, tempat di mana narkotika dan kekuasaan bersenjata masih menjadi hukum yang sulit ditaklukkan.
Penyelidikan intensif kini tengah dilakukan oleh aparat keamanan Kolombia untuk mengungkap siapa yang mencoba menembak jatuh sang presiden dari langit Karibia malam itu.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













