NARASITODAY.COM, MUENCHEN – Dua tahun setelah hembusan napas terakhirnya di koloni penjara kutub utara yang membeku, tabir gelap kematian pemimpin oposisi Rusia, Alexei Navalny, mulai tersingkap lewat temuan sains yang mengejutkan. Pemerintah Inggris secara resmi menuding Kremlin bertanggung jawab atas pembunuhan Navalny menggunakan toksin mematikan yang diekstraksi dari katak panah (dart frog).
Pengumuman ini disampaikan oleh Kantor Kementerian Luar Negeri Inggris (Foreign Office) berdasarkan analisis laboratorium terbaru terhadap sampel material yang ditemukan pada jasad Navalny. Temuan zat bernama epibatidine racun yang secara alami ditemukan pada kulit katak tropis menjadi bukti kunci yang meruntuhkan narasi medis otoritas Rusia selama dua tahun terakhir.
“Hanya Pemerintah Rusia yang memiliki sarana, motif, dan kesempatan untuk menggunakan toksin mematikan ini terhadap Alexei Navalny selama masa pemenjaraannya,” tegas Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, di sela-sela Konferensi Keamanan Muenchen, seperti dilansir Sky News, Sabtu (14/2/2026).
Pertemuan di Balik Layar Muenchen
Pernyataan keras ini dikeluarkan sesaat setelah Cooper bertemu dengan janda mendiang, Yulia Navalnaya. Pertemuan tersebut sarat akan emosi dan simbolisme, mengingat dua tahun silam di forum yang sama, Yulia pertama kali berdiri di depan dunia untuk mengumumkan kabar duka suaminya.
Bagi London, keberadaan epibatidine dalam tubuh Navalny tidak memiliki penjelasan medis atau lingkungan yang wajar selain sebagai upaya pembunuhan yang disengaja dan terencana. Inggris menilai penggunaan racun eksotis ini sebagai metode “barbar” yang dirancang untuk melenyapkan ancaman politik dengan cara yang paling keji.
Ketakutan di Balik Metode Keji
Penggunaan toksin katak panah ini dipandang Inggris sebagai cermin dari rasa takut yang luar biasa dari penguasa Rusia terhadap suara oposisi. Meskipun Rusia secara konsisten membantah terlibat, Inggris menegaskan komitmennya untuk terus mengungkap fakta di balik “operasi senyap” yang menargetkan Navalny.
Menurut pihak intelijen Inggris, pemilihan zat ini menunjukkan betapa jauhnya upaya yang ditempuh Kremlin untuk membungkam kritik. Epibatidine dikenal mampu melumpuhkan sistem saraf dengan cepat, sebuah akhir yang tragis bagi sosok yang selama bertahun-tahun menjadi duri dalam daging bagi pemerintahan Vladimir Putin.
Hingga berita ini diturunkan, Kremlin belum memberikan tanggapan terbaru terkait rilis temuan laboratorium Inggris tersebut. Namun, di panggung internasional, temuan ini dipastikan akan memicu gelombang tekanan diplomatik baru terhadap Rusia.***
Editor : Alysa
Sumber : cnnindonesia.com













