NARASITODAY.COM, HARYANA – Di sebuah sudut negara bagian Haryana, India, deru mesin penghancur tidak sekadar menggilas sampah. Ratusan baterai bekas skuter listrik dihancurkan hingga menjadi bubuk hitam pekat, sebelum akhirnya disaring dan diuapkan menjadi serbuk putih halus.
Inilah “harta karun” baru New Delhi. Serbuk putih itu adalah litium mineral strategis yang menjadi kunci pembuatan ponsel pintar, pusat data, hingga komponen jet tempur.
India kini kian agresif mengolah limbah elektronik (e-waste) sebagai bagian dari strategi nasional untuk mengurangi ketergantungan 100% impor mineral penting seperti litium, kobalt, dan nikel dari China. Mengutip AFP, Rabu (18/2/2025), fasilitas seperti Exigo Recycling kini menjadi garda terdepan dalam upaya ini.
Seorang ilmuwan utama di fasilitas tersebut menunjukkan hasil akhir proses daur ulang dengan bangga.
“Ini adalah emas putih,” cetusnya sambil memperlihatkan bubuk putih hasil ekstraksi.
Fenomena yang disebut sebagai urban mining ini dipandang sebagai solusi jangka menengah yang paling masuk akal. Mengingat penambangan domestik India diprediksi baru akan menghasilkan output signifikan setidaknya satu dekade lagi, 1,5 juta ton limbah elektronik yang dihasilkan India pada 2024 adalah “tambang emas” yang nyata.
Investasi Triliunan Rupiah
Pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi tidak main-main. New Delhi telah menyetujui program senilai US$170 juta (sekitar Rp2,75 triliun) untuk memperluas skala industri daur ulang mineral strategis. Langkah ini didukung oleh kebijakan Extended Producer Responsibility (EPR) yang memaksa produsen elektronik bertanggung jawab atas limbah produk mereka.
Raman Singh, Direktur Pelaksana Exigo Recycling, menilai kebijakan ini sebagai titik balik industri.
“EPR telah bertindak sebagai katalis utama dalam meningkatkan skala industri daur ulang,” ujar Raman Singh.
Senada dengan Raman, Nitin Gupta dari Attero Recycling mencatat adanya pergeseran signifikan dalam ekosistem pengolahan limbah di India.
“Sebelum EPR diterapkan sepenuhnya, 99% limbah elektronik didaur ulang secara informal. Sekitar 60% kini sudah beralih ke sektor formal,” kata Nitin Gupta.
Tantangan Sektor Informal
Meski menunjukkan tren positif, jalan India masih terjal. Data Program Pembangunan PBB menunjukkan lebih dari 80% limbah elektronik di India masih diproses di bengkel-bengkel informal dengan metode berbahaya seperti pembakaran terbuka dan rendaman asam.
Limbah-limbah ini seringkali hanya diambil bagian tembaga atau aluminiumnya saja, sementara mineral langka yang terkandung di dalam papan sirkuit atau harddisk terbuang sia-sia.
Sandip Chatterjee, penasihat senior Sustainable Electronics Recycling International, mengingatkan bahwa peran pekerja kecil tetap tidak bisa diabaikan dalam rantai pasok ini.
“Sektor informal masih menjadi tulang punggung pengumpulan dan pemilahan limbah,” kata Sandip Chatterjee.
Kini, fokus India adalah mengintegrasikan para pekerja informal ini ke dalam sistem yang lebih aman dan modern. Jika berhasil, India tidak hanya akan memiliki ketahanan energi untuk kendaraan listriknya, tetapi juga berhasil mengubah tumpukan sampah menjadi kemandirian ekonomi yang selama ini didominasi oleh China.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














