Apakah Boleh Tidak Sahur Saat Puasa Ramadan? Ini Penjelasan dan Dampaknya bagi Tubuh

0
ilustrasi makan sahur (pexels.com/Michael Burrows)

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Sahur kerap dianggap sepele, apalagi jika seseorang merasa masih kuat berpuasa meski melewatkannya. Tak sedikit pula yang hanya minum air putih karena bangun kesiangan atau tidak berselera makan. Lantas, secara kesehatan, apakah boleh tidak sahur saat puasa Ramadan?

Secara hukum agama, sahur memang bersifat sunah. Namun dari sisi medis, makan sahur sangat dianjurkan karena berperan penting dalam menjaga stamina dan keseimbangan tubuh selama berpuasa.

Peran Sahur sebagai Sumber Energi

Saat puasa, tubuh tidak mendapat asupan makanan dan minuman selama kurang lebih 12–14 jam. Energi utama tubuh berasal dari glukosa yang didapatkan dari makanan, terutama karbohidrat. Sebagian glukosa disimpan dalam bentuk glikogen di hati dan otot sebagai cadangan energi.

Baca Juga :  Ramadan Bukan Sekadar Puasa, Waktu yang Tepat untuk Upgrade Mindset

Jika seseorang melewatkan sahur, cadangan energi tersebut lebih cepat habis. Akibatnya, tubuh bisa mengalami penurunan gula darah (hipoglikemia) yang ditandai dengan lemas, pusing, gemetar, sulit konsentrasi, bahkan berisiko pingsan dalam kondisi ekstrem.

Tubuh Masuk Mode Hemat Energi

Ketika asupan energi sangat terbatas, tubuh akan beradaptasi dengan memperlambat metabolisme untuk menghemat tenaga. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa membuat tubuh memecah protein dari jaringan otot sebagai sumber energi alternatif.

Baca Juga :  5 Keutamaan Puasa Arafah yang Dianjurkan Rasulullah SAW untuk Umat Islam

Selain itu, perubahan pola makan yang ekstrem juga dapat memengaruhi keseimbangan hormon seperti insulin, leptin, ghrelin, dan kortisol. Hormon ghrelin yang memicu rasa lapar bisa meningkat, sementara leptin yang memberi sinyal kenyang justru menurun. Akibatnya, seseorang berpotensi makan berlebihan saat berbuka.

Dampak pada Kesehatan Mental

Tak hanya fisik, melewatkan waktu makan dalam durasi panjang juga dapat berdampak pada kesehatan mental. Saat tubuh kekurangan asupan, kadar hormon stres seperti kortisol bisa meningkat. Kondisi ini dikaitkan dengan rasa mudah cemas, stres, dan suasana hati yang kurang stabil.

Baca Juga :  Kisah Qais bin Shirmah, Sahabat Nabi yang Pingsan Saat Puasa dan Jadi Pelajaran Umat

Sedikit Lebih Baik daripada Tidak Sama Sekali

Jika memang sulit makan dalam porsi besar saat sahur, prinsip “sedikit lebih baik daripada tidak sama sekali” bisa diterapkan. Mengonsumsi makanan ringan bernutrisi seperti buah, sumber protein, dan air putih tetap membantu tubuh memiliki cadangan energi untuk beraktivitas sepanjang hari.

Dengan kata lain, boleh saja seseorang tetap berpuasa meski tidak sahur. Namun, demi menjaga kesehatan dan kebugaran selama Ramadan, sahur tetap menjadi waktu makan yang sebaiknya tidak dilewatkan. (MG3)

 

Editor : Mutiara

Sumber : idntimes.com