Halal Bihalal Lebih Nyaman dengan 5 Tips Anti Oversharing Fisik pada Anak

0
halal bihalal
Ilustrasi kaki bayi di tangan ibu.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Tradisi halal bihalal menjadi momen istimewa setelah Hari Raya Idulfitri. Keluarga besar berkumpul, saling memaafkan, dan mempererat silaturahmi. Namun di balik suasana hangat tersebut, ada satu kebiasaan yang kerap luput dari perhatian: komentar berlebihan tentang kondisi fisik anak.

Mulai dari “Wah, sekarang gemuk ya!” hingga “Kok makin kurus?” atau membandingkan tinggi badan dan warna kulit, komentar semacam ini sering dianggap candaan ringan. Padahal, dampaknya bisa memengaruhi rasa percaya diri dan kesehatan mental anak dalam jangka panjang.

Agar momen halal bihalal tetap nyaman dan ramah anak, berikut lima tips anti oversharing fisik yang bisa diterapkan keluarga.

Baca Juga :  Cegah Anak Terlalu Fokus Prestasi, Ini 5 Cara Orangtua Hindari Achievement Trap

1. Fokus pada Perkembangan, Bukan Penampilan

Alih-alih menyoroti berat badan atau bentuk fisik, arahkan percakapan pada perkembangan anak. Tanyakan tentang hobi barunya, pelajaran favorit, atau kegiatan yang membuatnya senang. Pendekatan ini membantu anak merasa dihargai karena kemampuan dan minatnya, bukan sekadar penampilannya.

2. Hindari Label dan Perbandingan

Membandingkan anak dengan sepupu atau saudara lain bisa memicu rasa tidak aman. Kalimat seperti “Kok kamu kalah tinggi dari si A?” sebaiknya dihindari. Setiap anak memiliki pertumbuhan dan fase perkembangan berbeda. Orang dewasa perlu lebih bijak dalam memilih kata.

3. Pahami Dampak Psikologis Komentar Fisik

Baca Juga :  Kegiatan Halal Bihalal DPRD Kabupaten Bogor Jadi Sarana Pererat Silaturahmi dan Tingkatkan Kinerja

Anak-anak, terutama usia sekolah, mulai membentuk citra diri. Komentar berulang tentang tubuh bisa tertanam kuat dalam ingatan mereka. Rasa malu, minder, hingga gangguan kepercayaan diri dapat muncul tanpa disadari orang dewasa.

Menjaga lisan saat berkumpul bukan hanya soal sopan santun, tetapi juga bentuk perlindungan terhadap kesehatan mental anak.

4. Beri Contoh Komunikasi Positif

Orang tua dapat menjadi role model dengan tidak mengomentari fisik orang lain di depan anak. Jika ada keluarga yang mulai membahas soal penampilan, arahkan pembicaraan dengan halus ke topik lain yang lebih netral dan membangun.

Budaya komunikasi positif perlu dibiasakan bersama.

Baca Juga :  WHO Desak Negara-negara Lawan Peredaran Rokok Elektrik Beraroma Permen

5. Ajarkan Anak Batasan Pribadi

Selain mengedukasi keluarga, penting juga membekali anak dengan pemahaman tentang batasan pribadi. Ajarkan mereka bahwa tidak semua komentar harus diterima begitu saja. Anak boleh merasa tidak nyaman dan berhak menyampaikan perasaannya dengan sopan.

Mewujudkan Halal Bihalal yang Ramah Anak

Halal bihalal seharusnya menjadi ruang aman dan penuh kasih bagi seluruh anggota keluarga, termasuk anak-anak. Dengan mengurangi oversharing dan komentar fisik yang tidak perlu, suasana silaturahmi akan terasa lebih hangat dan menyenangkan.

Momentum saling memaafkan setelah Idulfitri akan semakin bermakna ketika diiringi dengan komunikasi yang empatik dan penuh penghargaan.***

Editor : Alysa

Sumber : idntimes.com