Media Amerika Ungkap Upaya Riyadh Dorong Trump Hadapi Iran

0
Riyadh
Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) berdiskusi dengan Presiden AS Donald Trump.Foto : jawapos.com

NARASITODAY.COM, WASHINGTON – Langit Teheran membara pada Sabtu (1/3/2026) saat operasi “Epic Fury” resmi dimulai. Namun, jauh sebelum bom pertama dijatuhkan, sebuah drama diplomasi senyap terjadi di lorong-lorong kekuasaan Mar-a-Lago dan Riyadh.

Serangan udara besar-besaran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan bukan sekadar keputusan spontan Donald Trump, melainkan hasil dorongan intens dari dua sekutu utama Washington yaitu Israel dan Arab Saudi.

Laporan eksklusif The Washington Post mengungkap bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) memainkan peran kunci dalam meyakinkan Trump untuk mengambil langkah militer radikal guna mengakhiri empat dekade kekuasaan Teheran.

Diplomasi Dua Wajah

Pangeran MBS dilaporkan menjalankan strategi yang rumit. Di depan publik, Riyadh menyuarakan solusi diplomatik. Namun, sumber internal menyebut sang Putra Mahkota melakukan serangkaian panggilan telepon pribadi kepada Trump dalam sebulan terakhir untuk mengadvokasi serangan militer.

Baca Juga :  Trump Inisiasi Damai Ukraina, Macron Desak Kesepakatan yang Adil dan Kuat

Riyadh khawatir jika AS tidak bertindak sekarang, Iran akan muncul sebagai kekuatan yang lebih berbahaya. Ketakutan ini dipertegas oleh Menteri Pertahanan Saudi, Khalid bin Salman, dalam pertemuan tertutup di Washington pada Januari lalu. Meski demikian, secara resmi pejabat Saudi membantah adanya tekanan tersebut.

“Sepanjang komunikasi kami dengan pemerintahan Trump, kami tidak pernah melobi presiden untuk mengadopsi kebijakan yang berbeda,” ujar seorang pejabat Saudi.

Ketidaksabaran Trump dan “Keputusan Besar”

Keputusan Trump untuk menyerang diambil di tengah kegagalan negosiasi nuklir yang dijalankan utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner. Trump merasa Teheran hanya “mempermainkan” waktu.

Ketegangan mencapai puncaknya pada Jumat sore di Corpus Christi, Texas. Di depan para pendukungnya, Trump memberikan sinyal kuat bahwa kesabarannya telah habis.

“Kita harus membuat keputusan besar, Anda tahu itu. Tidak mudah, tidak mudah. Kita harus membuat keputusan yang sangat besar,” kata Trump saat itu.

Baca Juga :  United Autosports 95 Tunjukkan Performa Positif di Prologue FIA WEC 2025, Dibandingkan 2024

Tak lama kemudian, dari resor Mar-a-Lago, Trump merekam pidato yang menandai perubahan drastis kebijakan luar negeri AS. Sambil bom-bom menghantam target di Iran, ia berbicara langsung kepada rakyat Iran:

“Tidak ada presiden yang bersedia melakukan apa yang saya bersedia lakukan malam ini. Sekarang Anda memiliki presiden yang memberi Anda apa yang Anda inginkan, jadi mari kita lihat bagaimana Anda meresponsnya.”

Perdebatan Intelegen dan Risiko Perang

Langkah Trump ini memicu badai kritik di Washington. Banyak pihak mempertanyakan dasar intelijen serangan tersebut, mengingat penilaian sebelumnya menyebut Iran bukan ancaman langsung bagi daratan AS dalam waktu dekat. Senator Demokrat Mark R. Warner bahkan mempertanyakan urgensi serangan ini.

“Apa ancaman nyata yang dihadapi Amerika? Saya tidak tahu jawabannya,” cetus Warner setelah pengarahan rahasia.

Meski demikian, Menteri Luar Negeri Marco Rubio memberikan pembelaan bahwa waktu serangan sangat dipengaruhi oleh posisi Israel yang sudah bersiap menyerang, dengan atau tanpa bantuan Amerika.

Baca Juga :  Dampak Domino Perang Iran, Industri Bir India Terancam Kelangkaan dan Lonjakan Harga

Masa Depan yang Tidak Pasti

Operasi “Epic Fury” kini membawa Timur Tengah ke ambang ketidakpastian total. Trump menyerukan aparat keamanan Iran untuk berbalik arah mendukung para demonstran, sambil menjanjikan serangan tanpa henti.

“Pemboman besar-besaran dan tepat sasaran akan terus berlanjut tanpa henti sepanjang minggu ini, atau selama diperlukan untuk mencapai tujuan kita yaitu PERDAMAIAN DI SELURUH TIMUR TENGAH DAN, BAHKAN, DI SELURUH DUNIA!” tegas Trump.

Namun, sejarah memberikan peringatan keras. Mantan diplomat AS, Aaron David Miller, menilai strategi “jalan tengah” Trump antara serangan udara masif dan upaya perubahan rezim adalah sebuah perjudian besar.

“Sejarah tidak berpihak pada upaya untuk mengubah dan merestrukturisasi secara fundamental politik internal suatu negara hanya dengan menggunakan kekuatan udara,” pungkas Miller.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com