NARASITODAY.COM, ANKARA – Rudal yang melintasi langit Timur Tengah, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan muncul sebagai suara yang menyerukan ketenangan. Di hadapan ribuan kadernya, Erdogan menegaskan posisi Turki yang menolak terseret dalam pusaran api konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.
Bagi Turki negara anggota NATO yang berbagi garis perbatasan sepanjang 500 kilometer dengan Iran eskalasi ini bukan sekadar berita luar negeri, melainkan ancaman di depan pintu rumah. Terlebih, konflik yang kian memanas ini terjadi saat umat Muslim dunia sedang menjalani hari-hari awal di bulan suci Ramadan.
Misi Perdamaian di Bulan Suci
Dalam pidato emosional di hadapan kader Partai AKP di Ankara, Senin waktu setempat, Erdogan menegaskan komitmennya untuk menjadi jembatan bagi diplomasi. Ia menekankan bahwa prioritas utama saat ini adalah menghentikan jatuhnya korban sipil yang kian bertambah.
“Kami berada di pihak perdamaian,” kata Erdogan sebagaimana dikutip dari AFP, Selasa (3/3/2026).
Erdogan pun melanjutkan dengan pesan yang menyentuh sisi kemanusiaan:
“Kami menginginkan diakhirinya pertumpahan darah, agar air mata berhenti mengalir dan agar kawasan kita akhirnya mencapai perdamaian abadi yang telah diidamkan selama bertahun-tahun.”
Kritik Tajam terhadap Serangan “Ilegal”
Meski tetap menjaga jalur komunikasi dengan Presiden AS Donald Trump, Erdogan tidak gentar memberikan kritik pedas terhadap aksi militer yang dilakukan Washington dan Tel Aviv pada Sabtu lalu. Ia melabeli serangan tersebut sebagai tindakan “ilegal” yang memicu ketidakstabilan masif di kawasan.
Secara khusus, Erdogan menyoroti momentum Ramadan yang seharusnya menjadi bulan penuh rahmat, bukan peluru.
“Kami tidak menginginkan konflik atau perang dengan tetangga kami selama bulan suci Ramadan ini,” tegasnya.
Komitmen Diplomasi Turki
Ankara kini bersiap menggerakkan mesin diplomasinya di semua lini. Hingga saat ini, Turki belum menjadi sasaran langsung pembalasan Teheran, namun Ankara tetap waspada mengingat drone dan rudal Iran telah menyasar kepentingan AS di berbagai negara tetangga.
Erdogan pun menutup pidatonya dengan janji untuk tidak tinggal diam melihat penderitaan warga sipil, terutama anak-anak, yang menjadi korban paling rentan dalam perang ini.
“Kami akan mengintensifkan kontak kami di semua tingkatan hingga gencatan senjata disepakati dan ketenangan dipulihkan di wilayah kami,” pungkas Erdogan.
Langkah Turki ke depan akan sangat menentukan, apakah Ankara mampu meredam amarah di Teheran sekaligus membujuk Washington untuk kembali ke meja runding, ataukah Ramadan tahun ini akan terus diiringi suara dentuman ledakan.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














