Konflik Memuncak di Iran dan Wilayah Sekitarnya, Pasar Global Geger

0
Iran
Ilustrasi Bangunan dan toko-toko yang hancur dari pasar Persia kuno di Isfahan, Iran.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, DUBAI – Eskalasi konflik di Timur Tengah mencapai titik didih setelah pasukan Israel dan Amerika Serikat (AS) melancarkan pemboman masif ke berbagai target di seluruh Iran pada Selasa (3/3/2026).

Serangan ini memicu balasan serentak dari Teheran di kawasan Teluk, memperluas palagan perang hingga ke Lebanon, dan mengirimkan gelombang kejut yang meruntuhkan pasar saham global serta melambungkan harga minyak dunia.

Empat hari sejak dimulainya agresi, Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi bahwa militer AS telah menghantam sejumlah target angkatan laut dan udara Iran. Trump mengeklaim operasi tersebut sangat efektif dengan menyatakan bahwa “hampir semuanya telah dihancurkan.”

Kota Hantu dan Jeritan dari Ruang Bawah Tanah

Di balik peta navigasi rudal dan strategi militer, Teheran kini berubah menjadi kota mati yang mencekam. Asap hitam menyelimuti langit ibu kota seiring ledakan yang berulang kali mengguncang stasiun penyiaran negara IRIB dan area Bandara Mehrabad.

Baca Juga :  Pengadilan Tinggi Spanyol Perintahkan Kembalikan Uang Lebih dari 55 Juta Euro kepada Shakira

Bagi warga sipil seperti Bijan (32), perang bukan lagi soal politik, melainkan bertahan hidup. “Sampai kapan ini akan berlanjut? Di mana tempat perlindungan? Di mana pemerintah?” ujar karyawan bank tersebut kepada Reuters melalui sambungan telepon yang terputus-putus. “Setiap malam saya dan istri saya bersembunyi di ruang bawah tanah. Seluruh kota kosong. Ada asap dan darah di mana-mana.”

Ketakutan yang sama menghantui Firuzeh Seraj. Di tengah puing-puing rumah sakit yang terkena serangan, ia bimbang membawa putrinya yang berusia 10 tahun untuk perawatan dialisis. “Dunia, apakah kalian melihat? Mereka membunuh kami. Dengarkan suara kami,” isaknya.

Target Nuklir dan Lumpuhnya Kepemimpinan

Israel melaporkan telah menyerang situs pengembangan nuklir bawah tanah Minzadehei di Teheran. Di kota suci Qom, gedung Majelis Pakar Iran lembaga yang seharusnya memilih penerus Pemimpin Tertinggi dilaporkan rata dengan tanah.

Sebuah sumber militer mengungkapkan bahwa kampanye ini bertujuan memenggal kepemimpinan Iran. Mereka mengklaim Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei telah tewas dalam serangan pembuka pada Sabtu lalu.

Baca Juga :  Satpol PP Kabupaten Bogor Dukung Ketertiban, 52 PKL Patuhi Relokasi di Cibinong

Ketika ditanya mengenai siapa yang diharapkan memimpin Iran pasca-konflik, Trump memberikan jawaban sinis: “Sebagian besar orang yang kami pertimbangkan telah meninggal.”

Dunia mulai merasakan perihnya konflik ini di kantong mereka. Harga minyak mentah melonjak 5% dan harga gas alam di Eropa meroket hingga 40%. Di AS, harga bensin rata-rata mencapai $3,11 per galon, menciptakan kecemasan inflasi menjelang pemilihan paruh waktu November mendatang.

Di Selat Hormuz, jalur nadi energi dunia tersumbat. Biaya sewa kapal tanker melambung empat kali lipat mencapai US$ 400.000 per hari. Iran, melalui penasihat Garda Revolusi Ebrahim Jabari, memperingatkan: “Kami telah memberi tahu musuh bahwa jika Anda mencoba untuk membahayakan pusat-pusat utama kami, kami akan menyerang semua pusat ekonomi di kawasan ini.”

Baca Juga :  Ketua DPRD Kabupaten Bogor Rudy Susmanto Turut Berduka Atas Insiden Kecelakaan KA Turangga dan KA Lokal Bandung Raya

Lautan Duka di Minab

Meski sebagian warga Iran secara terbuka merayakan berakhirnya rezim Khamenei yang represif, duka mendalam menyelimuti kota Minab. Ratusan orang memadati jalanan, mengantar peti mati kecil berisi jenazah 165 siswi yang tewas di hari pertama perang saat sekolah mereka dibom.

Kantor Hak Asasi Manusia PBB menyebut insiden itu “benar-benar mengerikan” dan menuntut penyelidikan segera.

Di Washington, Trump berusaha membenarkan serangan ini sebagai langkah preventif sebelum negosiasi nuklir buntu berubah menjadi serangan Iran. Namun, ia juga memberikan peringatan bagi warga Iran yang ingin turun ke jalan untuk melakukan revolusi: “Jika Anda akan keluar dan berdemonstrasi, jangan lakukan dulu. Di luar sana sangat berbahaya.”

Saat ini, Timur Tengah berada di ambang ketidakpastian total. Dengan kedutaan besar yang ditutup dan jalur penerbangan yang lumpuh, dunia hanya bisa menyaksikan apakah eskalasi ini akan mereda atau justru membakar lebih luas.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber