NARASITODAY.COM, WASHINGTON D.C. – Ketegangan di jalur pelayaran paling vital di dunia, Selat Hormuz, memasuki babak baru yang semakin memanas. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, melontarkan kritik tajam terhadap Teheran yang dituding menjadikan selat tersebut sebagai alat sandera bagi stabilitas ekonomi dan perdagangan global.
Pernyataan keras ini merupakan respons terhadap tawaran terbaru dari Iran. Teheran dilaporkan menawarkan skema pembukaan kembali akses selat dan penghentian konflik, namun dengan syarat yang berat yaitu Washington harus menerima penundaan bukan penghentian program nuklir mereka. Bagi AS, tawaran tersebut bukanlah sebuah solusi, melainkan sebuah jebakan diplomatik.
Bukan Sekadar Izin Melintas
Di balik angka-angka perdagangan, Selat Hormuz adalah urat nadi kehidupan global. Sekitar 20% pasokan minyak dunia mengalir melalui celah sempit ini. Namun, Rubio menegaskan bahwa kebebasan navigasi tidak bisa ditukar dengan kedaulatan Iran atas jalur internasional tersebut.
“Jika yang mereka maksud dengan membuka selat adalah harus izin Iran atau membayar mereka… itu bukan membuka selat,” tegas Rubio dalam wawancara dengan Fox News, dikutip Rabu (29/4/2026).
Rubio menolak keras bayangan masa depan di mana Teheran memiliki kuasa untuk menentukan kapal mana yang boleh melintas atau menarik pungutan di jalur tersebut. Baginya, membiarkan hal itu terjadi sama saja dengan memberikan “tombol penghancur” ekonomi kepada Iran.
“Ini bukan sekadar isu regional. Ini menyangkut aturan dunia,” tambah Rubio. Ia bahkan menyandingkan kontrol Iran atas Selat Hormuz dengan istilah yang mengerikan: “senjata nuklir ekonomi.”
Titik Panas Perdagangan Global
Meski dalam beberapa hari terakhir mulai terlihat pergerakan kapal tanker di kawasan tersebut, situasi di lapangan tetap bagaikan api dalam sekam. Ketidakpastian ini telah membuat pasar energi global terjaga sepanjang malam, karena gangguan sekecil apa pun di Hormuz dipastikan akan meroketkan harga minyak dunia secara instan.
Di Gedung Putih, Presiden Donald Trump dilaporkan telah meninjau proposal dari Iran. Namun, mengutip laporan The New York Times, AS tetap pada posisi semula yaitu tidak ada kompromi selama Iran belum menghentikan total program nuklirnya.
Di sisi lain, Teheran tetap berdiri teguh pada pendiriannya. Mereka membantah ambisi pembuatan senjata nuklir dan menolak untuk membongkar fasilitas yang ada. Selat Hormuz pun kini bukan lagi sekadar jalur laut, melainkan “kartu as” terakhir dalam permainan geopolitik yang sangat berisiko.
Jika praktik kontrol Iran ini dinormalisasi, Washington khawatir hal ini akan menjadi preseden buruk bagi jalur-jalur strategis lainnya di dunia, mengancam fondasi kebebasan perdagangan yang telah dibangun selama puluhan tahun.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














