Aktivitas Pertambangan Logam Tanah Jarang Mengancam Ekosistem Sungai Mekong dan Kesehatan Masyarakat

0
Sungai Mekong
Ilustrasi Pemandangan panorama dari tebing ke sungai besar dan bukit pasir yang merupakan garis perbatasan antara Thailand dan Laos.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, CHIANG SAEN – Sungai Mekong, urat nadi yang menghidupi lebih dari 70 juta jiwa di Asia Tenggara, kini tengah menghadapi ancaman eksistensial. Aktivitas pertambangan logam tanah jarang (rare earth) yang tidak teregulasi di wilayah hulu dilaporkan telah mencemari anak-anak sungai dengan limbah beracun, mengancam kesehatan masyarakat hingga stabilitas ekspor pangan global.

Wilayah yang selama ini dijuluki sebagai “Dapur Dunia” karena produktivitas pertaniannya tersebut kini berubah menjadi zona merah polusi. Limpahan logam berat seperti arsenik, merkuri, timbal, dan kadmium mengalir dari tambang-tambang di Myanmar dan Laos, merembes ke lahan pertanian dan ekosistem perikanan di Thailand utara.

Suara dari Tepian Sungai

Bagi Sukjai Yana, seorang nelayan berusia 75 tahun di Chiang Saen, Thailand, sungai bukan sekadar air, melainkan identitas. Namun kini, ia hanya bisa menatap lesu jaringnya. Masyarakat mulai takut mengonsumsi ikan hasil tangkapannya karena isu kontaminasi.

Baca Juga :  Kasus Beras Ilegal 250 Ton di Aceh, Pemerintah Tegas Lindungi Kedaulatan Pangan Nasional

“Saya tidak tahu ke mana lagi saya harus pergi,” ujar Yana, Rabu (29/4/2026). Kegundahannya mewakili puluhan juta orang yang menggantungkan hidup pada sungai sepanjang hampir 5.000 kilometer tersebut.

Ketakutan serupa menjalar ke sektor agraria. Lah Boonruang (63), seorang petani yang mengandalkan Sungai Kok anak sungai Mekong yang mengalir dari Myanmar mengaku cemas saat menyiram ladangnya. “Semua orang takut akan racun. Jika kami tidak bisa mengekspor, petani adalah pihak pertama yang akan mati,” tegasnya.

Ancaman terhadap Ekonomi dan Kesehatan

Thailand, sebagai salah satu raksasa eksportir pangan dunia, berada di posisi yang paling rentan. Dengan nilai ekspor beras dan buah-buahan yang menembus angka US$10 miliar pada 2024, risiko akumulasi racun pada hasil panen dapat meruntuhkan kepercayaan pasar global.

Baca Juga :  Sampah Daun? Jadikan Hasil Berkebun Lebih Subur dengan 5 Cara Membuat Kompos Alami

Niwat Roykaew, pendiri The Mekong School, memperingatkan dampak jangka panjang terhadap budaya tani mereka. “Kekhawatiran kami adalah racun menumpuk di beras yang kami ekspor. Ini akan membuat industri pertanian beras kami, yang merupakan budaya kami, runtuh,” tutur Roykaew.

Secara medis, para ahli memperingatkan bahwa paparan logam berat ini adalah pembunuh senyap yang memicu kanker, kegagalan organ, hingga gangguan perkembangan permanen pada anak-anak.

Peneliti dari Universitas Naresuan, Warakorn Maneechuket, bahkan menemukan fenomena mengerikan pada ikan lele di Sungai Kok yaitu pertumbuhan mirip tumor, perubahan warna sisik, hingga kelainan pada mata ikan.

Dilema Geopolitik dan Mineral Kritis

Ironisnya, kehancuran lingkungan ini dipicu oleh dahaga dunia akan teknologi modern. Tanah jarang sangat dibutuhkan untuk komponen smartphone, kendaraan listrik, hingga peralatan militer canggih seperti jet tempur F-35 dan rudal Tomahawk.

Baca Juga :  Banjir Dadakan di Citeureup, Anak Sungai Cibeureum Tak Mampu Bendung Debit Air

Myanmar telah menjadi pemasok utama bagi China dengan nilai ekspor mencapai US$4,2 miliar sejak 2017. Di sisi lain, pengamanan pasokan mineral kritis ini juga menjadi prioritas kebijakan luar negeri Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump.

Brian Eyler dari Stimson Center menggambarkan situasi ini dengan istilah yang lugas namun mengerikan. Ia menyebut polusi limbah beracun ini sebagai “bom atom” bagi cekungan sungai Mekong. Menurutnya, kerusakan yang ditimbulkan jauh lebih masif dibandingkan ancaman bendungan besar sekalipun.

Meski dampaknya nyata, pemerintah Thailand mengaku terkendala dalam menindak tambang-tambang lintas batas tersebut karena konflik politik di negara tetangga serta keterbatasan dana dan informasi. Sementara dunia terus memburu mineral untuk teknologi “hijau”, masyarakat di sepanjang Mekong harus membayar harganya dengan kesehatan dan masa depan mereka.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com