NARASITODAY.COM, YERUSALEM – Kota Tua Yerusalem, yang biasanya berdenyut dengan doa dan langkah kaki peziarah, mendadak senyap bak kota mati. Otoritas keamanan Israel secara resmi mengumumkan penutupan total seluruh situs suci di kawasan tersebut mulai akhir pekan ini, menyusul eskalasi perang besar-pasca serangan udara terhadap Iran.
Langkah drastis ini diambil tepat saat wilayah Timur Tengah berada di titik nadir keamanan setelah tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Suasana religius yang seharusnya kental di bulan suci Ramadhan kini berganti dengan barikade baja dan patroli ketat personel keamanan.
Larangan Ibadah di Tengah Ramadhan
Penutupan ini mencakup seluruh simbol spiritual dunia, mulai dari Tembok Barat bagi umat Yahudi, Gereja Makam Suci bagi umat Kristiani, hingga Kompleks Masjid Al-Aqsa yang menjadi kiblat pertama umat Muslim.
Kepolisian Israel menegaskan bahwa kebijakan ini bersifat absolut demi menghindari jatuhnya korban jiwa di tengah situasi yang sangat volatil.
“Untuk menjaga keselamatan publik dan nyawa manusia, semua tempat suci di Kota Tua termasuk Tembok Barat, Masjid Al-Aqsa, Kompleks Bukit Bait Suci, dan Gereja Makam Suci, akan tetap ditutup,” tulis pernyataan resmi polisi yang dikutip Sabtu (7/3/2026).
Ketegasan otoritas keamanan juga menutup pintu bagi siapa pun yang ingin berziarah, tanpa terkecuali.
“Masuk tidak akan diizinkan bagi para jemaah atau pengunjung dari agama apapun,” tambah juru bicara kepolisian.
Kota Tua yang Terisolasi
Sejak pecahnya perang regional yang melibatkan koalisi Amerika Serikat dan Israel, akses menuju Kota Tua Yerusalem timur wilayah yang diduduki Israel sejak 1967 mengalami penyekatan luar biasa. Hanya penduduk lokal dan pemilik toko yang diizinkan melintas, itu pun di bawah pengawasan ketat.
Sentuhan pilu terasa bagi puluhan ribu warga Palestina. Biasanya, setiap Jumat di bulan Ramadhan, lorong-lorong batu Kota Tua akan dipenuhi lautan manusia yang hendak menunaikan salat di Masjid Al-Aqsa. Kini, tradisi tahunan itu terhenti oleh deru jet tempur dan bayang-bayang rudal balistik.
Situasi di Yerusalem saat ini menjadi cermin betapa rapuhnya kedamaian di pusat spiritual dunia ketika geopolitik meledak. Dengan penutupan ini, pusat sejarah yang telah berdiri ribuan tahun itu kini terisolasi dari dunia luar, menunggu hingga api konflik di kawasan tersebut mereda.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














