NARASITODAY.COM, DUBAI – Langit kawasan Teluk yang biasanya tenang kini berubah menjadi palagan udara yang mencekam. Memasuki pekan kedua eskalasi konflik, Sabtu (7/3/2026), serangan rudal dan drone besar-besaran dilaporkan menghantam sejumlah negara mulai dari Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Bahrain, hingga Arab Saudi dan Kuwait.
Di Dubai, pusat kemewahan dunia itu sempat lumpuh total. Ledakan keras terdengar di penjuru kota, disusul kepulan asap hitam yang membumbung di dekat bandara internasional tersibuk di dunia. Seorang saksi mata menuturkan kepada AFP tentang kengerian saat suara mesin drone yang berdengung rendah tiba-tiba diakhiri dengan ledakan memekakkan telinga di area terminal.
Kehilangan Nyawa di Balik Kemilau Kota
Meski otoritas setempat menyebut insiden di bandara sebagai “insiden kecil akibat jatuhnya puing pencegatan,” realita di lapangan mencatat duka. Seorang warga negara Pakistan dilaporkan tewas di Dubai akibat hantaman serpihan rudal yang berhasil dicegat.
Situasi genting ini memaksa Presiden UEA, Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan, tampil dalam siaran televisi dengan nada bicara yang tegas namun sarat beban. Ia mengonfirmasi bahwa negaranya kini tidak lagi sekadar berjaga-jaga, melainkan sedang bertempur.
“UEA berada dalam periode perang. Kita sedang melewati masa yang sangat sulit, namun negara ini akan mampu melewatinya dan akan muncul lebih kuat dari situasi tersebut,” tegas Sheikh Mohammed bin Zayed.
Janji yang Menguap dalam Hitungan Jam
Ironisnya, serangan masif ini terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, sempat melunakkan retorika dengan meminta maaf kepada negara-negara Teluk dan berjanji tidak akan menyerang wilayah mereka. Namun, janji itu segera pupus oleh pernyataan resmi Teheran yang menegaskan bahwa operasi militer akan terus berlanjut terhadap lokasi mana pun yang dianggap mendukung musuh.
Data dari Kementerian Pertahanan UEA menunjukkan skala serangan yang luar biasa:
- Sabtu ini saja: 16 rudal balistik dan 121 drone diarahkan ke UEA.
- Akumulasi sepekan: 221 rudal balistik dan lebih dari 1.300 drone telah terdeteksi menyasar wilayah UEA.
Infrastruktur Energi dan Militer Jadi Sasaran
Ketegangan tidak berhenti di perbatasan UEA. Di Arab Saudi, rudal balistik Iran secara spesifik menyasar Pangkalan Udara Prince Sultan yang menampung pasukan Amerika Serikat. Militer Saudi juga melaporkan telah menjatuhkan 17 drone yang terbang di atas ladang minyak Shaybah.
Dampak ekonomi mulai terasa nyata. Kuwait, yang mencegat tujuh drone sejak fajar, segera mengambil langkah drastis. Perusahaan minyak nasional Kuwait mengumumkan pengurangan produksi minyak mentah sebagai langkah pencegahan terhadap ancaman di Selat Hormuz.
Klaim Iran bahwa serangan mereka hanya menargetkan musuh dibantah keras oleh Yordania. Militer Yordania menuduh Iran secara sengaja menargetkan kedaulatan mereka dengan 119 rudal dan drone dalam sepekan terakhir.
Juru bicara militer Yordania, Brigadir Jenderal Mustafa Hayari, menegaskan bahwa instalasi vital mereka menjadi target langsung.
“Rudal dan drone ini menargetkan instalasi vital di dalam Yordania dan tidak melewati wilayah kami,” kata Hayari dengan nada peringatan.
Hingga berita ini diturunkan, maskapai-maskapai besar seperti Emirates sempat menghentikan operasional sebelum akhirnya kembali beroperasi secara terbatas. Kawasan Teluk kini berada di titik nadir keamanan, menanti apakah diplomasi masih memiliki ruang di tengah gemuruh mesin perang yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














