BRIN Kembangkan Antena 6G Mini untuk Internet Supercepat Indonesia

0
BRIN
Ilustrasi koneksi internet cepat koneksi.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Indonesia mempersiapkan diri untuk tidak sekadar menjadi penonton dalam revolusi teknologi digital generasi berikutnya. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kini tengah menggarap pengembangan jaringan komunikasi generasi keenam (6G), sebuah langkah strategis agar negara ini siap menghadapi era internet super cepat dan tidak tertinggal dari derap kemajuan teknologi global.

Fokus utama riset yang sedang berjalan ini tertuju pada jantung dari konektivitas itu sendiri yaitu antena. Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Telekomunikasi (PRT) BRIN, Yohanes Galih Adhiyoga, menjelaskan bahwa timnya tengah mengembangkan antena mikrostrip single layer dan multilayer yang dirancang khusus untuk teknologi 6G. Tantangan terbesar dalam desain ini adalah bagaimana memasukkan teknologi canggih ke dalam ruang yang sangat terbatas di dalam gawai modern.

Yohanes menekankan bahwa miniaturisasi menjadi kunci utama dalam pengembangan ini, mengingat kompleksitas perangkat elektronik masa kini.

Baca Juga :  Kesehatan Optimal dengan Pepino: Temukan 5 Khasiat Buah yang Jarang Diketahui!

“Kita tidak mungkin memiliki antena yang dimensinya melebihi ukuran telepon seluler itu sendiri. Oleh karena itu, antena harus dirancang sekecil mungkin agar dapat ditempatkan di dalam perangkat,” ujar Yohanes yang dikutip dari laman BRIN, Senin (9/3/2026).

Ia menambahkan, desain yang matang sangat krusial mengingat di dalam casing tipis sebuah telepon genggam, harus berjejral berbagai antena dengan fungsi berbeda mulai dari Wi-Fi, Bluetooth, hingga aplikasi lainnya tanpa saling mengganggu.

Proses Panjang dari Simulasi ke Realita

Menghadirkan teknologi 6G bukanlah pekerjaan semalam. Yohanes memaparkan bahwa riset ini dimulai dari tahap simulasi desain untuk memastikan kelayakan, dilanjutkan dengan optimasi untuk mencapai kinerja puncak. Setelah melewati proses digital tersebut, barulah tim memasuki tahap fabrikasi atau pembuatan fisik antena, sebelum akhirnya menjalani uji laboratorium yang ketat.

Untuk menjamin ketepatan, para peneliti menggunakan perangkat canggih yang mampu beroperasi pada kekuatan 110 gigahertz (GHz). Frekuensi ultra-tinggi ini diperlukan agar antena dapat memenuhi tuntutan teknologi 6G yang mengandalkan gelombang milimeter.

Baca Juga :  Ratusan Warga Malasari Masih Luntang-lantung Menunggu Huntap

“Kita juga telah lakukan beberapa pengukuran, seperti s-parameter, pola radiasi, dan karakteristik lainnya. Hal ini menjadi studi awal pengembangan teknologi 6G yang ke depan berpotensi digunakan pada frekuensi millimeter-wave di Indonesia,” jelas Yohanes.

Selain membumi dengan teknologi 6G, tim PRT BRIN juga menatap langit dengan mengembangkan antena komunikasi satelit (SATCOM). Upaya ini bertujuan memastikan sinyal komunikasi tetap stabil antara satelit di orbit geostasioner dan stasiun bumi.

Inovasi yang menarik adalah penerapan sistem phased array, sebuah teknologi yang juga diadopsi oleh raksasa industri seperti Starlink. Sistem ini memungkinkan sekelompok elemen antena bekerja sebagai satu kesatuan, di mana pancaran sinyal atau beam dapat dikendalikan secara elektronik tanpa perlu menggerakkan antena secara fisik.

Baca Juga :  Peristiwa Tragis di Kanada dan Australia Tewaskan Seorang Backpacker dan Mengungkap Bahaya Dingo

Hal ini menjadi solusi vital untuk melacak satelit orbit rendah yang bergerak sangat cepat.

Antena secara fisik tetap diam, namun dari sudut pandang elektromagnetik, arah pancaran sinyalnya dapat bergerak. Hal ini penting karena satelit orbit rendah memiliki pergerakan yang cepat, sehingga antena juga harus mampu mengikuti pergerakan satelit tersebut,” terangnya.

Untuk mendukung misi ambisius ini, PRT BRIN telah mempersenjatai diri dengan infrastruktur riset kelas dunia. Mereka memiliki rangkaian laboratorium tematik, mulai dari Laboratorium Communication and Signal Processing (CSP), RF, Microwave, Acoustic, and Photonic (RFMAP), hingga Laboratorium Antenna and Propagation (AP).

Tak hanya itu, fasilitas near-field anechoic chamber juga tersedia untuk menguji karakteristik antena dengan presisi tinggi, didukung oleh network analyzer berkemampuan hingga 110 GHz dan mesin LPKF Protolaser H4 untuk fabrikasi prototipe elektronik yang presisi.***

Editor : Alysa

Sumber : detik.com