NARASITODAY.COM, JAKARTA – Di tengah dinamika keamanan kawasan yang kian menghangat, Indonesia mengambil langkah strategis untuk memperkuat kedaulatan maritimnya. Pemerintah Indonesia dipastikan akan memboyong sistem rudal jelajah supersonik BrahMos, hasil kolaborasi teknologi India dan Rusia, guna mempermodern alat utama sistem persenjataan (alutsista) nasional.
Kabar ini menjadi sinyal kuat bahwa Jakarta tidak main-main dalam menjaga setiap jengkal wilayah perairannya, menyusul langkah serupa yang diambil Filipina beberapa tahun sebelumnya.
Modernisasi di Garis Depan Maritim
Kepastian pengadaan ini dikonfirmasi oleh juru bicara Kementerian Pertahanan, Rico Ricardo Sirait. Menurutnya, pemilihan BrahMos bukan tanpa alasan. Kecepatan dan presisi rudal ini dianggap mampu memberikan efek deteren (deterrence effect) yang signifikan di wilayah laut.
“Pengadaan sistem rudal BrahMos ini untuk meningkatkan kapabilitas pertahanan Indonesia, terutama dalam melindungi wilayah maritim,” ujar Sirait dalam keterangan yang dikutip pada Selasa (10/3/2026).
Langkah ini dipandang sebagai bagian dari teka-teki besar modernisasi militer Indonesia yang terus dipacu dalam beberapa tahun terakhir. Sirait menambahkan bahwa integrasi sistem ini akan menjadi tumpuan baru bagi kekuatan pertahanan di sektor perairan.
“Kesepakatan ini bagian dari modernisasi alutsista dan kapabilitas pertahanan, khususnya sektor maritim,” tegasnya.
Investasi Triliunan untuk Kedaulatan
Meski rincian kontrak final masih menjadi perbincangan hangat di kalangan pengamat militer, nilai kesepakatan ini diprediksi mencapai angka yang fantastis. Diskusi awal antara Jakarta dan New Delhi melaporkan nilai kontrak berada di kisaran US$200 juta hingga US$350 juta (sekitar Rp3 triliun hingga Rp5,25 triliun).
Namun, beberapa sumber internasional seperti South China Morning Post (SCMP) sempat mengisyaratkan angka yang lebih tinggi, yakni mencapai US$450 juta, mencerminkan skala besar dari paket persenjataan yang sedang dinegosiasikan.
BrahMos bukanlah nama baru di dunia militer. Produk dari perusahaan patungan India-Rusia yang didirikan sejak 2023 di New Delhi ini dikenal karena fleksibilitasnya. Rudal ini dirancang untuk bisa diluncurkan dari berbagai platform yakini darat, udara, kapal perang, hingga kapal selam.
Kehadirannya di Indonesia mengikuti jejak Manila. Pada tahun 2022, Filipina telah lebih dulu mengamankan sistem rudal anti-kapal berbasis darat ini dengan kesepakatan senilai hampir US$375 juta.
Hingga laporan ini diturunkan, pihak Kementerian Pertahanan India maupun manajemen BrahMos Aerospace belum memberikan tanggapan resmi terkait detail teknis pengiriman. Namun, bagi Indonesia, kehadiran “si pemburu supersonik” ini diharapkan menjadi jawaban atas tantangan keamanan maritim di masa depan.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














