Antrean Truk Menguat, Bayang Kelangkaan BBM Mengancam Pakistan di Tengah Gejolak Timur Tengah

0
Pakistan
Ilustrasi bendera pakistan. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, LAHORE – Pemandangan tak biasa terlihat di sepanjang jalan menuju depot-depot pengisian bahan bakar di pinggiran Lahore, Punjab. Puluhan truk tanker raksasa yang seharusnya berlalu-lalang mendistribusikan energi, kini hanya teronggok diam dalam barisan panjang yang menyesakkan. Pakistan sedang menahan napas; bayang-bayang kelangkaan BBM parah mulai menjadi nyata di tengah eskalasi perang di Timur Tengah.

Rabu (11/3/2026), kekhawatiran publik memuncak. Meski pemerintah berusaha meredam kepanikan, fakta di lapangan berbicara lain. Konflik antara poros Amerika Serikat-Israel dengan Iran telah memutus urat nadi pasokan energi negeri tersebut.

“Tidak ada bensin di depot selama empat hari terakhir,” ungkap Abdul Shakoor, salah satu pengemudi truk tanker, kepada AFP, Kamis (12/3/2026).

Baca Juga :  Kompak Turun Harga, SPBU Swasta dan Pertamina Pangkas Varian Diesel per 1 Juli 2026

Suara Shakoor mewakili kecemasan ribuan pekerja logistik. Ia menyebut penutupan perbatasan oleh Iran sebagai pemicu utama mampetnya aliran bahan bakar. “Iran telah menutup perbatasan dari sisi mereka. Depot saat ini dalam keadaan kosong,” tambahnya lesu.

Bergantung pada Laut yang Bergejolak

Nasib energi Pakistan memang sangat terikat pada stabilitas kawasan Teluk. Ketergantungan yang tinggi membuat kapal-kapal pengangkut minyak kini harus mendapatkan pengawalan ketat dari angkatan laut hanya untuk bisa bersandar.

Pekan lalu, guncangan ekonomi sudah terasa saat Islamabad menaikkan harga BBM sebesar 20%. Keputusan itu seketika memicu fenomena panic buying dan antrean mengular di berbagai SPBU. Di tengah kegentingan ini, Menteri Perminyakan Ali Pervaiz Malik mencoba memberikan jaminan ketenangan melalui siaran resmi.

Baca Juga :  Isi Pertalite Pakai Jerigen, Pria di Sukabumi Diciduk Polisi

“Tidak akan ada perubahan signifikan dalam waktu dekat pada harga bahan bakar,” kata Malik, berusaha meyakinkan masyarakat yang mulai skeptis.

Untuk menghemat tetes terakhir bensin yang tersisa, Perdana Menteri Shehbaz Sharif telah menekan tombol darurat nasional. Langkah penghematan drastis pun diambil: pegawai pemerintah kini hanya bekerja empat hari seminggu, dan sekolah-sekolah terpaksa diliburkan untuk menekan konsumsi BBM secara masif.

Namun, di garda terdepan distribusi, pesan penghematan itu terasa seperti janji kosong saat tangki-tangki tetap kering. Mazhar Mahmood, seorang asisten pengemudi tanker, menceritakan realitas pahit yang mereka temui setiap hari di pusat distribusi.

Baca Juga :  Pemerintah Resmikan Penurunan Harga BBM di SPBU Seluruh Indonesia Per 1 Juni 2026

“Para pengemudi pergi ke depot hari ini juga, tetapi staf depot mengatakan tidak ada bahan bakar yang tersedia,” ujar Mahmood.

Bagi para pekerja seperti Mahmood, setiap hari yang terbuang di parkiran depot adalah kerugian nyata. Harapan bahwa pasokan akan tersedia dalam beberapa hari ke depan masih menggantung tanpa kepastian yang jelas.

“Situasi di negara ini sedang tidak baik-baik saja. Tidak ada bensin di negara ini, itulah sebabnya kendaraan-kendaraan diparkir di sini,” tutup Mahmood, menggambarkan suasana muram yang kini menyelimuti Pakistan.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com