Investigasi Awal Ungkap Tragedi Minab: Kesalahan Data AS Diduga Menewaskan 182 Nyawa di Sekolah Iran

0
investigasi
Kuburan sedang disiapkan untuk para korban setelah serangan Israel terhadap sebuah sekolah di Minab, Iran, 2 Maret 2026. Departemen Media Asing Iran/WANA (Kantor Berita Asia Barat)/Handout via REUTERS

NARASITODAY.COM, MINAB – Sebuah tabir kelam dalam hari-hari awal perang di Timur Tengah mulai tersingkap. Hasil temuan awal investigasi militer mengungkapkan bahwa Amerika Serikat bertanggung jawab atas serangan rudal yang menghancurkan sebuah sekolah dasar di Iran, menewaskan sedikitnya 168 anak-anak dan 14 guru.

Tragedi yang terjadi pada 28 Februari 2026 di Sekolah Shajareh Tayyiba, Kota Minab, ini diduga kuat dipicu oleh penggunaan koordinat target yang sudah kedaluwarsa. Alih-alih menghantam fasilitas militer, rudal jelajah tersebut justru mengakhiri tawa di ruang-ruang kelas.

Laporan yang pertama kali diungkap oleh The New York Times menyebutkan bahwa Komando Pusat AS (CENTCOM) menggunakan data lama dari Defense Intelligence Agency (DIA) saat membidik pangkalan angkatan laut milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Baca Juga :  Terapi Ikan Berisiko? Simak 5 Bahaya yang Bisa Mengancam Kesehatan Anda

Ironisnya, citra satelit dari tahun 2013 menunjukkan sekolah dan pangkalan tersebut memang berada dalam satu kompleks. Namun, pembaruan pada 2016 memperlihatkan pagar pemisah permanen telah dibangun, memisahkan area pendidikan dari zona militer. Sayangnya, data koordinat yang digunakan dalam serangan tampaknya tidak merekam perubahan fisik tersebut.

“Insiden ini sedang diselidiki; untuk komentar lebih lanjut kami menyerahkannya kepada Pentagon,” ujar juru bicara DIA kepada CNN, Kamis (12/3/2026). Sementara itu, pihak CENTCOM masih memilih bungkam selama proses investigasi berjalan.

Kesaksian Senjata dan Video Konstruksi

Sentuhan dramatis muncul dari rekaman video yang berhasil diverifikasi oleh CNN. Video yang diambil dari sebuah lokasi konstruksi di dekat sekolah tersebut memperlihatkan amunisi yang konsisten dengan rudal jelajah BGM/UGM-109 Tomahawk buatan Amerika Serikat.

Baca Juga :  Wakil Ketua DPRD DKI Wibi Andrino Tegaskan Perlunya Penanganan Humanis Terkait Wacana Pembatasan Masa Tinggal di Rusunawa

Setelah satu rudal menghantam pangkalan IRGC, kamera bergeser ke arah kanan, menangkap kepulan asap raksasa yang membubung dari reruntuhan Sekolah Shajareh Tayyiba. Serpihan yang ditemukan di lokasi pun menguatkan bukti tersebut; fragmen logam yang tersebar identik dengan rudal produksi Raytheon, senjata yang bahkan tidak dimiliki oleh sekutu terdekat AS seperti Israel, apalagi Iran sendiri.

Respons dari Washington

Di tengah tekanan publik internasional, Presiden AS Donald Trump memberikan pernyataan singkat pada Rabu waktu setempat. Ia mengaku belum mengetahui detail laporan mengenai tanggung jawab AS dalam tragedi mematikan tersebut.

“Saya tidak tahu tentang itu,” ujar Trump. Saat didesak mengapa ia sempat menuduh Iran sebagai pelaku tanpa bukti kuat, ia menjawab singkat, “Karena saya memang belum tahu cukup banyak tentang hal itu.”

Baca Juga :  Pasangan Couple Goals Angga Yunanda dan Shenina Cinnamon Resmi Menikah

Gedung Putih melalui juru bicara Karoline Leavitt menegaskan bahwa proses pencarian fakta masih dinamis. “Seperti yang diakui New York Times dalam laporannya sendiri, penyelidikan masih berlangsung,” tegasnya.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menambahkan bahwa pihaknya tidak pernah berniat menyasar warga sipil. “Serangan ini akan diselidiki secara menyeluruh,” kata Hegseth, sembari menekankan bahwa AS telah “berusaha dengan segala cara untuk menghindari korban sipil.”

Kini, dunia menunggu hasil akhir investigasi resmi di tengah duka mendalam keluarga 168 anak di Minab yang menjadi korban dari apa yang disebut sebagai kesalahan koordinat fatal di era peperangan modern.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com