
NARASITODAY.COM, BOGOR — Biasanya orang datang ke kafe untuk dua hal, ngopi dan ngobrol santai. Namun di Cafe Titik Seduh, Leuwiliang, Sabtu (14/3), secangkir kopi justru berubah menjadi bahan bakar diskusi serius.
Di tempat yang aroma kopinya lebih dulu menyapa daripada mikrofon pembicara itu, Forum Komunikasi Bumi Putra (FKBP) Bogor Barat resmi menandai kehadirannya.
Alih-alih peresmian yang kaku dengan sambutan panjang dan wajah tegang, kelahiran forum ini justru dibungkus diskusi publik santai bersama sejumlah tokoh pemuda lintas sektor.
Meja-meja kopi mendadak berubah fungsi menjadi meja bundar tempat berbagai gagasan tentang Bogor Barat dipertukarkan.
Kegiatan ini sekaligus menjadi ajang silaturahmi dan tasyakuran atas terbentuknya FKBP Bogor Barat.
Harapannya, forum ini bisa menjadi jembatan aspirasi masyarakat, bukan sekadar tempat kumpul yang ramai di awal lalu sepi seperti grup WhatsApp lama.
Tokoh pemuda Bogor Barat, Irfan Drajat, yang ikut hadir dalam diskusi itu menegaskan bahwa persoalan di wilayah Bogor Barat tidak bisa diselesaikan hanya dengan keluhan di warung kopi.
“Bogor Barat ini butuh pemikiran kritis sekaligus aksi nyata dari para pemudanya,” kata Irfan, yang tampaknya ingin memastikan diskusi itu tidak berhenti hanya di gelas kopi terakhir.
Diskusi semakin berwarna ketika Ketua Peradi Kabupaten Bogor, Oteu Herdiansyah, ikut memberikan pandangannya.
Dari perspektif hukum, ia mengingatkan bahwa perjuangan sosial tetap harus berdiri di atas pijakan konstitusi.
Pesannya sederhana namun penting: memperjuangkan masyarakat boleh semangat, tapi jangan sampai lupa aturan.
Sementara itu, pengamat sosial sekaligus tokoh pemuda Gus Day memberikan catatan kritis tentang berbagai persoalan sosial di Bogor Barat.
Ia mengajak peserta melihat lebih luas persoalan yang ada, mulai dari pemerataan infrastruktur hingga peluang ekonomi kreatif bagi generasi muda di desa-desa.
Diskusi pun mengalir cukup dinamis. Sesekali serius, sesekali diselingi tawa seperti diskusi khas anak muda yang pikirannya tetap tajam meski duduknya santai.
Di penghujung acara, kegiatan tasyakuran ini ditutup dengan komitmen bersama untuk menjadikan FKBP Bogor Barat sebagai forum yang inklusif dan terbuka.
Ke depan, forum ini berencana rutin menggelar dialog serupa agar isu-isu lokal tidak hanya ramai di obrolan warga, tetapi juga sampai ke telinga para pengambil kebijakan.
Wartawan : Andreas













