Erdogan Sebut Israel “Jaringan Haus Darah” Serang Fasilitas Iran-Lebanon

0
Erdogan
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.Foto : republika.co.id

NARASITODAY.COM, ISTANBULkubah Fakultas Kedokteran Universitas Istanbul, suasana peringatan Hari Kedokteran pada Sabtu (14/3/2026) berubah menjadi panggung diplomasi kemanusiaan yang emosional. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyampaikan pidato keras yang menyasar serangan militer Israel di kawasan Timur Tengah, menyebut aksi tersebut sebagai pola penghancuran yang sistematis terhadap fasilitas sipil.

Sambil mengenang pengabdian para tenaga medis, Erdogan menuding bahwa apa yang saat ini terjadi di Lebanon dan Iran merupakan cerminan dari tragedi kemanusiaan yang sebelumnya melumat Jalur Gaza.

Pola Serangan yang Berulang

Erdogan menyoroti bagaimana sekolah dan rumah sakit kini tak lagi menjadi tempat aman, melainkan sasaran empuk proyektil militer. Di tengah dentum konflik yang kian meluas pasca-serangan ke Iran pada akhir Februari lalu, Erdogan memberikan label tajam terhadap aktor di balik serangan tersebut.

Baca Juga :  Rudy Susmanto Pimpin Penanaman Pohon Serentak di Hutan Kota, Bogor Harus Kembali Hijau

“Jaringan haus darah terus menyerang sekolah dan rumah sakit di Iran dan Lebanon, persis seperti yang mereka lakukan di Gaza,” tegas Erdogan dalam acara yang dibarengi dengan buka puasa bersama tersebut.

Kecaman ini muncul menyusul laporan memilukan mengenai tewasnya 150 anak-anak dalam serangan di sebuah sekolah dasar perempuan di Iran, serta gugurnya hampir 1.700 tenaga medis selama berkecamuknya perang. Bagi Erdogan, dunia saat ini sedang menyaksikan titik nadir di mana bayi di dalam inkubator pun tak luput dari maut.

Diplomasi di Atas Logika Kemanusiaan

Baca Juga :  Demonstrasi Anti-Pemerintah Meletus Lagi di Kampus-Kampus Iran, Bentrokan Pecah

Turki mencoba memposisikan diri sebagai penyeimbang di tengah “kegilaan” perang yang melibatkan kekuatan besar. Saat Teheran membalas dengan gelombang drone ke wilayah yang menampung aset militer Amerika Serikat, Ankara memilih jalan yang berbeda.

“Menghadapi situasi yang gila ini, Turki berada di garda terdepan dalam membela kemanusiaan, membela logika, dan mencari solusi krisis melalui dialog,” ujar sang Presiden di hadapan para dokter dan akademisi.

Erdogan menegaskan bahwa langkah politik luar negeri Turki tidak akan goyah oleh iming-iming materi atau stabilitas ekonomi sesaat. Ia menolak melihat peta konflik Timur Tengah hanya sebagai sengketa perebutan sumber daya alam.

“Kami akan mempertahankan sikap kemanusiaan. Kami tidak melihat peristiwa melalui nilai minyak, emas, gas alam, atau mineral, melainkan melalui lensa keadilan, kasih sayang, dan martabat manusia,” terangnya.

Baca Juga :  KPAD Kabupaten Bogor Tolak Usulan Penghentian Program Makan Bergizi Gratis

Filosofi Menjaga Nyawa

Pidato ini mencapai puncaknya saat Erdogan menyentuh sisi spiritual dan filosofis pemerintahannya. Menutup orasinya, ia mengutip Surah Al-Ma’idah ayat 32, yang mengibaratkan penyelamatan satu nyawa sebagai penyelamatan bagi seluruh umat manusia.

Filosofi “Biarkan rakyat hidup, agar negara dapat hidup” menjadi penutup sekaligus pesan kuat bahwa Turki akan terus menyuarakan gencatan senjata di tengah eskalasi yang dipicu oleh kematian Pemimpin Tertinggi Iran pekan lalu. Di mata Erdogan, martabat manusia harus tetap berdiri tegak, meski di tengah puing-puing bangunan yang runtuh akibat bom.***

Editor : Alysa

Sumber : cnnindonesia.com