NARASITODAY.COM,JAKARTA – Di tengah bayang-bayang krisis energi akibat memanasnya konflik di Timur Tengah, Pemerintah Indonesia mulai menyiapkan langkah taktis untuk mengamankan kantong kas negara dan masyarakat. Skema bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH) selama satu hari dalam sepekan kini tengah dimatangkan sebagai instrumen efisiensi nasional.
Kebijakan ini bukan sekadar warisan pandemi, melainkan upaya strategis untuk memangkas ketergantungan pada Bahan Bakar Minyak (BBM). Dengan mengurangi frekuensi perjalanan harian, pemerintah memproyeksikan adanya penghematan belanja energi yang cukup terasa bagi setiap individu maupun skala nasional.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa potensi pengurangan konsumsi BBM dari skema ini tidak bisa dipandang sebelah mata.
“Karena itu ada penghematan dari segi apa, penggunaan mobilitas dari bensin, penghematannya cukup signifikan seperlima, seperlima dari apa yang biasa kita keluarkan,” ujar Airlangga di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (19/3/2026), sebagaimana dikutip dari Detik.com.
Menjaga Produktivitas di Balik Layar Laptop
Langkah ini menjadi bagian dari “sabuk pengaman” ekonomi untuk meredam dampak kenaikan harga minyak mentah dunia yang terus merangkak naik. Alih-alih mengambil kebijakan drastis yang berisiko mengguncang pasar, pemerintah memilih jalur fleksibilitas kerja.
Menariknya, rencana ini tidak hanya menyasar para abdi negara atau ASN. Pemerintah berharap sektor swasta dan pemerintah daerah (Pemda) juga ikut menyatukan barisan dalam gerakan efisiensi ini. Saat ini, teknis pelaksanaan sedang digodok agar rotasi kerja tidak sampai melumpuhkan denyut nadi pelayanan publik dan bisnis.
“Nah itu teknisnya sedang akan disiapkan, karena ini diharapkan juga tidak hanya ASN tetapi juga swasta dan juga Pemda-Pemda,” tambah Airlangga setelah bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto.
Menanti Momentum Pasca-Lebaran
Masyarakat tampaknya harus sedikit bersabar untuk merasakan pola kerja baru ini. Pemerintah menjadwalkan implementasi WFH satu hari dalam lima hari kerja tersebut baru akan bergulir setelah libur panjang Lebaran 2026 berakhir.
Terkait kapan tanggal pastinya dan berapa lama kebijakan ini akan bertahan, Airlangga menyebut semuanya bersifat dinamis. Pemerintah akan terus memantau barometer tensi geopolitik dan pergerakan harga komoditas energi global.
“Pasca lebaran, tapi nanti kita akan tentukan kapan waktunya,” jelas Airlangga. Ia pun menambahkan, “Nanti kita lihat situasinya. Situasi harga minyak, situasi perang. Jadi kita ikuti situasi yang berkembang.”
Dengan kebijakan ini, wajah perkantoran di Indonesia bersiap menyambut tatanan baru: sebuah upaya kolaboratif di mana produktivitas tetap berjalan dari balik meja rumah, demi menjaga stabilitas ekonomi yang sedang diuji oleh gejolak dunia.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














