Rumah Terpencil di Kampung Babakan, Jejak Lama yang Bertahan di Tengah Keterbatasan

0
Rumah Terpencil
Rumah sederhana milik warga berdiri di tengah kawasan perbukitan Kampung Babakan, Desa Pabangbon, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Akses menuju lokasi yang harus ditempuh dengan berjalan kaki melewati hutan dan turunan menjadi gambaran keterbatasan yang masih dihadapi sebagian masyarakat di wilayah terpencil. Foto : Andreas/Narasitoday.com

NARASITODAY.COM, BOGOR- Sebuah rumah sederhana berdiri jauh dari hiruk pikuk permukiman warga di Kampung Babakan, Desa Pabangbon, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor.

Di tengah rimbunnya pepohonan dan kontur perbukitan, rumah tersebut menjadi saksi kehidupan yang berjalan dalam keterbatasan.

Untuk mencapai lokasi, warga harus berjalan kaki sekitar tiga menit dengan menuruni bukit dan melewati jalur hutan. Akses yang sulit menjadi tantangan tersendiri, terutama saat kondisi darurat.

Baca Juga :  International Mask Festival 2024: Pementasan Tari Topeng yang Menggugah Semangat Persatuan

“Kalau kakek sakit harus dibopong,” ujar Ujang, salah satu anggota keluarga yang tinggal di rumah tersebut. Minggu (22/03/2026).

Rumah itu dihuni oleh lima orang, terdiri dari pasangan lanjut usia, anak, menantu, serta seorang cucu yang masih balita.

Meski berada jauh dari keramaian, keluarga ini tetap bertahan menjalani kehidupan sehari-hari dengan kondisi yang ada.

Menurut keterangan keluarga, rumah tersebut telah berdiri sejak puluhan tahun lalu. Bahkan, keberadaannya disebut sudah ada sejak masa yang mereka kenal sebagai zaman gerombolan, menandakan panjangnya jejak sejarah yang melekat pada tempat itu.

Baca Juga :  Kotoran Telinga Berdarah? Kenali 5 Penyebab Utamanya dan Cara Mengatasinya

Kawasan tersebut dulunya tidak hanya dihuni satu keluarga. Tercatat sekitar lima rumah pernah berdiri di lokasi yang sama.

Namun, seiring waktu, satu per satu warga memilih pindah ke wilayah yang lebih mudah diakses, menyisakan rumah ini sebagai satu-satunya yang masih bertahan.

Keberadaan rumah di tengah keterbatasan akses ini menjadi potret nyata kehidupan sebagian masyarakat di wilayah pelosok.

Baca Juga :  Rupiah Melemah Tekan Perajin Tahu-Tempe, Pemerintah Pantau Harga Kedelai Impor

Selain menyimpan nilai historis, kondisi tersebut juga menggambarkan tantangan yang masih dihadapi dalam pemerataan pembangunan, khususnya terkait aksesibilitas dan layanan dasar.

Di tengah sunyi dan keterisolasian, rumah itu tetap berdiri kokoh menjadi simbol ketahanan, sekaligus pengingat akan pentingnya perhatian terhadap masyarakat yang tinggal jauh dari jangkauan fasilitas umum.***

Wartawan : Andreas