Rupiah Melemah Tekan Perajin Tahu-Tempe, Pemerintah Pantau Harga Kedelai Impor

0
tahu
Menteri Perdagangan Budi Santoso.Foto : Kemendag/Niaga.Asia

NARASITODAY.COM,JAKARTA – Di tengah kepulan asap tungku rumahan, para perajin tahu dan tempe di berbagai daerah kini harus memeras keringat lebih dalam. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berimbas langsung pada periuk nasi mereka. Pasalnya, komoditas pangan yang menjadi bagian dari menu harian masyarakat Indonesia ini masih sangat bergantung pada pasokan kedelai impor.

Ketika mata uang garuda melemah, harga beli kedelai di tingkat importir otomatis melambung tinggi. Akibatnya, ongkos produksi membengkak drastis, sementara para perajin tidak bisa serta-merta menaikkan harga jual di pasar demi menjaga daya beli konsumen. Hasilnya, margin keuntungan mereka kian menipis dan menyusut drastis.

Menanggapi jeritan para pelaku usaha mikro ini, Menteri Perdagangan Budi Santoso angkat bicara. Pemerintah menegaskan saat ini tengah melakukan pemantauan ketat di lapangan guna mendeteksi akar masalah utama dari pembengkakan biaya produksi pangan merakyat tersebut.

Baca Juga :  Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Pastikan Impor BBM RI Tetap Aman di Tengah Gejolak Global

“Ya kita, kita ini ya, terus memantau, masalahnya apakah karena harga impornya ya atau bagaimana. Kita nanti lakukan pengawasan, jangan sampai naik terus ya,” ujar Budi Santoso saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (8/6/2026) kemarin.

Fokus pada Stabilitas Pasokan Impor

Langkah jangka pendek yang kini menjadi prioritas Kementerian Perdagangan adalah memastikan keran pasokan kedelai impor tetap mengalir lancar ke tangan perajin. Menurut kalkulasi pemerintah, jika pasokan kedelai di pasar langka, harga bahan baku dipastikan akan semakin liar dan berpotensi memicu gulung tikarnya para produsen tahu-tempe nasional.

Baca Juga :  Kenaikan Harga Kedelai Jadi Tantangan Berat bagi Industri Tahu dan Tempe di Bogor

“Jadi kita usahakan pasokannya terjaga dan nanti bisa kita komunikasikan, kita carikan solusinya nanti yang terbaik. Tapi yang penting pasokan impornya harus terjaga dulu ya,” beber Budi Santoso.

Bukan Komoditas Prioritas HET

Meski menjadi makanan favorit lintas generasi, Budi mengungkapkan bahwa secara regulasi, tahu dan tempe sejauh ini tidak masuk ke dalam daftar bahan pokok prioritas yang harga maupun pasokannya dikontrol ketat secara langsung oleh pemerintah melalui Harga Eceran Tertinggi (HET).

Kendati demikian, pemerintah berjanji tidak akan tinggal diam jika rantai distribusi bahan baku utama komoditas ini mulai tersumbat.

Baca Juga :  Mitos atau Fakta? Bolehkah Minum Air Lemon Setiap Hari untuk Kesehatan?

Tempe tahu itu kan tidak termasuk kebutuhan pokok yang dipantau ya. Tapi kalau harga-harga kebutuhan pokok kan ada yang di atas HET (Harga Eceran Tertinggi), ada juga yang di bawah HET. Terus untuk yang di atas HET, kita terus menjamin supaya distribusi dan pasokannya lancar, yang di atas HET,” papar Budi Santoso menambahkan.

Kini, di tengah ketidakpastian kurs global, para perajin lokal hanya bisa berharap janji pemerintah untuk mengamankan pasokan kedelai segera terealisasi nyata, agar hidangan tempe dan tahu tetap bisa tersaji di meja makan masyarakat tanpa harus mengorbankan dapur para pembuatnya.****

Editor : Alysa

Sumber : detik.com