Rudal Iran Bidik Diego Garcia, Trump Ultimatum 48 Jam Buka Selat Hormuz

0
Iran
Ilustrasi Pemandangan udara atol di Kepulauan Marshall.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, DIEGO GARCIA – Kedamaian di gugusan karang terpencil Samudra Hindia terkoyak. Iran secara mengejutkan meluncurkan serangan rudal balistik yang menargetkan pangkalan militer gabungan Amerika Serikat (AS) dan Inggris di Diego Garcia. Meski serangan ini gagal mencapai sasaran utama, peristiwa tersebut menandai eskalasi konflik yang kini meluas jauh melampaui perbatasan Timur Tengah.

Menteri Perumahan Inggris, Steve Reed, mengonfirmasi bahwa pangkalan strategis tersebut memang menjadi target utama Teheran.

“Penilaian kami adalah bahwa Iran memang menargetkan Diego Garcia. Satu rudal jatuh sebelum mencapai target, sementara yang lain berhasil dicegat,” ujarnya kepada BBC, dikutip Minggu (22/3/2026).

Ancaman yang Menjangkau Eropa

Serangan ini bukan sekadar gertakan biasa. Militer Israel mengungkapkan bahwa Iran menggunakan rudal balistik dua tahap dengan daya jangkau mencapai 4.000 kilometer. Secara teknis, ini adalah pertama kalinya Iran menggunakan rudal jarak menengah dalam operasi tempur nyata.

Baca Juga :  Menteri Perdagangan Serahkan Sertifikat SNI untuk Pasar Jambu Dua Bogor

Kepala Staf Letnan Jenderal Eyal Zamir memperingatkan bahwa ancaman ini telah bergeser ke jantung Barat.

Rudal-rudal ini tidak ditujukan untuk menyerang Israel. Jangkauannya mencakup ibu kota Eropa — Berlin, Paris, dan Roma semuanya berada dalam jangkauan ancaman langsung,” tegas Zamir.

Ultimatum Keras dari Gedung Putih

Respons cepat datang dari Washington. Presiden AS Donald Trump, yang sehari sebelumnya sempat memberi sinyal de-eskalasi, kini berbalik arah dengan sikap yang jauh lebih agresif. Trump memberikan ultimatum 48 jam kepada Teheran untuk membuka Selat Hormuz tanpa syarat.

Baca Juga :  Lingkaran Perang Meluas, Sekutu Barat dan Negara Teluk Bersiap Balas Iran

“Jika Iran tidak sepenuhnya membuka Selat Hormuz tanpa ancaman dalam 48 jam, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan pembangkit listrik mereka,” tegas Trump dalam pernyataan resminya.

Namun, ancaman tersebut justru dibalas dengan tantangan serupa oleh pihak Iran. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap infrastruktur energi negaranya akan memicu kehancuran massal di seluruh kawasan.

“Seluruh infrastruktur energi dan fasilitas minyak di kawasan akan menjadi target sah dan akan dihancurkan secara permanen,” ancam Ghalibaf.

Krisis Energi dan Dampak Global

Sentuhan “perang total” kian terasa saat rudal Iran dilaporkan menghantam wilayah dekat pusat riset nuklir Israel di Dimona dan Arad. Ini merupakan pertama kalinya fasilitas nuklir menjadi target langsung, yang mengakibatkan puluhan korban luka.

Baca Juga :  Inggris dan Jerman Susun Rencana Darurat Hadapi Ambisi Trump di Greenland

Kini, denyut nadi energi dunia di Selat Hormuz praktis lumpuh. Mengingat 20% pasokan minyak dunia melintasi jalur tersebut, pasar global langsung bereaksi hebat. Harga minyak mentah Brent melonjak ke level US$112,19 per barel, angka tertinggi sejak tahun 2022.

Sebagai langkah darurat untuk mencegah keruntuhan ekonomi global, AS sempat melonggarkan sanksi pembelian minyak Iran selama 30 hari, sementara negara-negara G7 terus bersiaga untuk mengamankan jalur pelayaran internasional yang kini kian mencekam.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com