NARASITODAY.COM, TEHERAN – Televisi pemerintah Iran menyatakan telah memperoleh draf kerangka kerja awal untuk nota kesepahaman (MoU) antara Iran dan Amerika Serikat (AS). Draf ini dirancang sebagai langkah awal untuk menyelesaikan konflik bersenjata yang tengah membekap kedua negara.
Berdasarkan draf garis besar tersebut, Iran berkomitmen untuk memulihkan kembali lalu lintas pelayaran komersial di Selat Hormuz ke tingkat sebelum perang dalam kurun waktu satu bulan.
Sebagai timbal balik, Amerika Serikat akan menarik pasukan militernya dari wilayah sekitar Iran serta mencabut blokade laut yang selama ini melumpuhkan perekonomian Teheran. Kendati demikian, laporan tersebut menggarisbawahi bahwa draf garis besar ini “belum final”.
Asa Baru di Jalur Energi Dunia yang Mencekam
Sejak 13 April 2026 lalu, Selat Hormuz yang strategis telah berubah menjadi kawasan yang mencekam. Sebagai jalur energi global yang vital, selat tersebut terus dikontrol ketat oleh Iran, sementara militer AS membalasnya dengan memberlakukan blokade laut total terhadap seluruh pelabuhan dan garis pantai Iran. Ketegangan ini sempat membuat aktivitas perdagangan maritim dunia pasrah dalam ketidakpastian.
Namun kini, secercah harapan muncul dari balik meja perundingan rahasia. Draf MoU ini menawarkan jalan keluar dari kebuntuan geopolitik yang melelahkan tersebut.
“Amerika Serikat telah berkomitmen untuk mencabut blokade laut Iran dan menghentikan gangguan terhadap kapal-kapal yang melintas ke atau dari Republik Islam Iran,” kata laporan TV pemerintah Iran itu, mengutip AFP, Kamis (26/5/2026).
Sebagai imbalannya, perdagangan dunia bisa sedikit bernapas lega karena draf tersebut menyatakan Iran akan mengizinkan pelayaran komersial melalui Selat Hormuz untuk dilanjutkan seperti sebelum perang dalam waktu satu bulan.
Kedaulatan yang Tetap Dijaga dan Teka-Teki Penarikan Pasukan
Meski sepakat melunakkan ketegangan, Teheran menegaskan bahwa mereka tidak akan melepaskan kendali atas wilayah kedaulatannya begitu saja. Berdasarkan isi draf, Iran akan terus mengelola jalur pelayaran secara mandiri, termasuk hak untuk memeriksa kapal dan mengenakan biaya layanan kepada kapal-kapal yang melintas.
Ketentuan longgar ini juga memiliki batasan yang tegas. Komitmen Iran tidak akan berlaku bagi kapal militer, dan Teheran belum setuju “untuk membuka kembali selat tersebut tanpa syarat,” tambah laporan tersebut.
Di sisi lain, klausul mengenai penarikan pasukan sekutu masih menyisakan teka-teki yang abu-abu. Draf tersebut menyebutkan bahwa Washington telah memberikan “komitmen kepada Republik Islam Iran terkait masalah ini”.
Namun, hingga kini masih belum jelas apakah komitmen penarikan tersebut hanya merujuk pada pasukan yang dikerahkan menjelang dan selama perang berkecamuk, atau apakah juga mencakup pembongkaran pangkalan militer permanen milik AS yang sudah lama berdiri di kawasan Teluk.
Meniti Garis Waktu 60 Hari Menuju Damai
Langkah menuju perdamaian sejati dipastikan masih panjang dan membutuhkan diplomasi yang hati-hati. Setelah kedua belah pihak menyepakati kerangka kerja awal ini, Teheran dan Washington dijadwalkan akan langsung memasuki periode negosiasi intensif selama 60 hari. Laporan draf tersebut tidak merinci isu-isu sensitif apa saja yang bakal diperdebatkan di meja runding nanti.
Pertaruhannya sangat besar, sebab nasib stabilitas Timur Tengah dan pasokan energi global berada di atas selembar kertas ini.
Draf itu menambahkan, “Jika negosiasi mencapai kesepakatan akhir selama periode 60 hari tersebut, kesepakatan ini diharapkan akan disetujui melalui resolusi mengikat Dewan Keamanan PBB.”***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














