Krisis LPG India Memaksa Warga Miskin Kembali ke Kayu Bakar, Polusi Udara New Delhi Kian Mencekik

0
LPG
Ilustrasi Pekerja kerah biru mengantarkan tabung gas LPG dengan sepeda.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, NEW DELHIDi lorong-lorong sempit pemukiman padat New Delhi, aroma gas yang bersih perlahan digantikan oleh pedihnya asap kayu bakar. Krisis pasokan Liquefied Petroleum Gas (LPG) yang dipicu oleh gejolak geopolitik di Timur Tengah kini memukul titik paling rentan di India: dapur warga miskin.

Lonjakan harga di pasar gelap yang tak terkendali memaksa ribuan keluarga meninggalkan kompor gas dan kembali ke metode tradisional yang mengancam kesehatan. India, sebagai salah satu importir LPG terbesar di dunia, kini tengah berjuang melawan efek domino gangguan energi global.

Harga Setara Gaji Bulanan

Di ibu kota, harga tabung gas yang biasanya berkisar antara 1.800 hingga 2.000 rupee, kini meroket hingga 5.000 rupee (sekitar Rp950.000) di pasar informal. Angka ini hampir setara dengan seluruh pendapatan bulanan bagi sebagian pekerja kasar di India.

Baca Juga :  Maluku Satu Rasa dan KBMTR Deklarasikan Dukungan untuk Paslon Rudy-Jaro di Pilkada Bogor 2024

Sheela Kumari (36), seorang pekerja rumah tangga, menjadi salah satu wajah dari krisis ini. Baginya, tabung gas 14 kilogram yang hanya bertahan kurang dari tiga minggu kini telah menjadi barang mewah yang tak terjangkau.

“Dulu kami masih bisa beli, sekarang tidak mungkin. Kami akhirnya kembali pakai kayu dan arang,” ungkap Sheela dengan nada pasrah sebagaimana dikutip dari AFP, Selasa (24/3/2026).

Taruhan Nyawa di Balik Tungku

Kembalinya warga ke bahan bakar biomassa bukan tanpa risiko. Asap pekat dari arang dan kayu bakar memperparah polusi udara di New Delhi salah satu kota paling tercemar di dunia—sekaligus merusak paru-paru penghuni rumah.

Baca Juga :  Trump Ulangi Niat Kuasai Greenland, Denmark dan Eropa Tersentak

Bagi Munni Bai (45), yang memiliki riwayat asma, keputusan ini adalah pilihan yang menyakitkan. Meski sempat beralih ke biogas demi kesehatan, dinding ekonomi memaksanya kembali ke asap yang menyesakkan.

Gas terlalu mahal. Kami tidak bisa bergantung pada itu lagi,” ujar Munni.

Dampaknya paling nyata terlihat pada anak-anak. Sheela Kumari menceritakan bagaimana buah hatinya kini terus-menerus didera batuk akibat paparan partikel berbahaya di area dapur yang sempit. “Kami tidak punya pilihan lain,” tambahnya.

Penimbunan di Pasar Gelap

Para aktivis dari Centre for Advocacy and Research (CFAR) menilai krisis ini diperparah oleh praktik penimbunan. Banyak pekerja migran yang tidak memiliki dokumen resmi untuk mengakses LPG subsidi, sehingga mereka menjadi mangsa empuk tengkulak di pasar informal.

Baca Juga :  India Pertimbangkan Hambatan Biologis di Perbatasan dengan Bangladesh

“Belum ada kekurangan besar, tapi penimbunan meningkat. Harga di pasar gelap naik dua hingga tiga kali lipat,” ungkap seorang peneliti dari CFAR.

Ancaman Terhadap Program Energi Bersih

Kondisi ini menjadi tamparan keras bagi program “Ujjwala” milik pemerintah India, yang sebelumnya sukses menyambungkan lebih dari 100 juta koneksi LPG ke rumah tangga miskin. Keberlanjutan ambisi energi bersih India kini terancam runtuh jika harga energi global terus bergejolak.

Saat dunia sibuk berdiplomasi di meja-meja tinggi, di sudut-sudut New Delhi, para ibu hanya bisa berharap api di tungku kayu mereka tidak hanya memberikan makan, tapi juga tidak merenggut kesehatan anak-anak mereka.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com