Presiden AS Donald Trump Rencanakan Kunjungan ke China pada Mei 2026 Setelah Penundaan Akibat Konflik Iran

0
Selat Hormuz
Presiden Amerika Serikat Donald Trump.Foto : bbc.com

NARASITODAY.COM, WASHINGTON D.C. – Di tengah kepulan asap konflik Iran yang belum sepenuhnya mereda, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memutuskan untuk mengalihkan pandangannya sejenak ke arah Timur. Gedung Putih mengonfirmasi bahwa Trump dijadwalkan terbang ke Beijing pada 14–15 Mei 2026 untuk menemui Presiden China, Xi Jinping.

Kunjungan ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan upaya diplomatik tingkat tinggi yang sempat “tersandera” oleh krisis di Timur Tengah. Penundaan yang terjadi sebelumnya membuktikan betapa dinamisnya peta politik dunia saat ini, di mana Trump harus menyeimbangkan perannya sebagai panglima tertinggi dalam perang Iran sekaligus negosiator ulung di hadapan China.

Misi di Tengah Ketegangan

Baca Juga :  Basak-bisik Sponsor PT Eka Santi Jayamulia Terhadap Adik TKW Berinisial WS, Meminta Jauhi Wartawan?

Bagi Trump, perjalanan ini adalah panggung untuk menunjukkan kendali. Ia ingin membuktikan bahwa AS mampu menangani konflik bersenjata tanpa mengabaikan hubungan dengan mitra dagang terbesar sekaligus rival geopolitik utamanya.

Presiden Xi memahami bahwa sangat penting bagi presiden untuk berada di sini selama operasi tempur ini,” ungkap juru bicara Gedung Putih, merujuk pada alasan penundaan kunjungan tersebut.

Meski jadwal telah dipatok, pihak Beijing masih bersikap seperti biasa: tertutup dan hati-hati. Hingga kini, belum ada konfirmasi rinci dari pihak China mengenai agenda teknis pertemuan. Namun, Trump tampak optimis. Ia bahkan berencana mengundang Xi untuk melakukan kunjungan balasan ke Washington pada akhir tahun ini.

Baca Juga :  Luruskan Fakta, Ketum PWI Zulmansyah Sekedang Usul Percepat Kongres

Agenda di Meja Perundingan

Ini akan menjadi kali pertama Trump menginjakkan kaki di China sejak 2017. Pertemuan ini juga menjadi tatap muka perdana keduanya sejak kesepakatan gencatan senjata perang dagang di Korea Selatan pada Oktober lalu.

Meski aroma persahabatan coba dibangun, meja perundingan dipastikan akan tetap terasa panas. Beberapa isu krusial yang akan dibahas meliputi:

  • Perdagangan: Fokus pada sektor pertanian dan ekspor suku cadang pesawat.
  • Taiwan: Mengingat langkah AS yang terus meningkatkan penjualan senjata ke Taiwan, isu kedaulatan ini diprediksi akan memicu diskusi alot.
  • Energi & Iran: Trump berambisi menekan Iran agar tidak menutup Selat Hormuz dan mengharapkan dukungan China sebagai importir minyak terbesar dunia.
Baca Juga :  Obama Kutuk Keputusan Trump Kerahkan Pasukan Garda Nasional

Faktor Ketidakpastian

Pertemuan Mei mendatang akan menjadi ujian besar bagi stabilitas ekonomi global. Konflik Iran telah mengguncang pasar energi, dan kesepakatan antara AS-China bisa menjadi “obat penenang” bagi pasar yang sedang bergejolak.

Namun, di atas kertas, semuanya masih bergantung pada situasi di lapangan. Selama dentum meriam di Iran masih terdengar, dinamika pertemuan dua raksasa ekonomi ini tetap berada di bawah bayang-bayang ketidakpastian. Trump kini sedang mematangkan persiapan, berharap pertemuan di Beijing nanti akan menjadi “momen penting” yang mengubah arah sejarah kedua negara.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber