NARASITODAY.COM, MANILA – Di bawah terik matahari Commonwealth Avenue, Quezon City, pemandangan tak biasa tersaji. Ribuan warga Filipina memenuhi jalanan, bukan untuk demonstrasi, melainkan untuk berjalan kaki berkilo-kilometer demi mencapai tempat kerja. Fenomena ini mendadak viral di media sosial X, memotret dampak nyata krisis energi nasional yang dipicu oleh eskalasi perang di Timur Tengah.
Dalam potongan video yang beredar luas, tampak kerumunan warga bak rombongan jalan santai. Ada yang mengenakan kaus oblong dengan sarung (palung) tersampir, namun tak sedikit yang tetap tampil rapi dengan kemeja kantor meski keringat membasahi punggung.
Fakta di Balik Video Viral
Narasi yang berkembang di media sosial menyebutkan bahwa warga terpaksa berjalan kaki karena cadangan energi hampir habis total.
“Di Filipina di mana cadangan energi hampir habis, orang-orang sekarang berjalan kaki ke tempat kerja,” tulis salah satu netizen di platform X.
Netizen lain menambahkan, “Di Filipina orang harus berjalan kaki saat hendak bekerja karena krisis energi dan fasilitas transportasi yang terbatas.”
Namun, penelusuran lebih lanjut dari situs grup Phil Star memberikan konteks yang lebih dalam. Berdasarkan penjelasan warga lokal, mereka sebenarnya bukan berjalan kaki hingga ke kantor, melainkan berjalan menuju titik keberangkatan transportasi umum yang masih memiliki kursi kosong. Aksi ini menjadi pilihan terakhir karena kelangkaan armada dan lonjakan harga BBM yang mencekik.
Darurat Energi dan Mogok Massal
Kondisi ini diperparah dengan ancaman lumpuhnya sektor transportasi. Sejumlah operator transportasi umum mengumumkan akan melakukan pemogokan pekan ini sebagai bentuk protes atas kenaikan harga BBM yang tak terkendali dan dugaan kelalaian pemerintah dalam merespons krisis.
Situasi di lapangan ini selaras dengan langkah drastis yang diambil oleh Istana Malacañang. Presiden Ferdinand Marcos Jr. secara resmi telah mendeklarasikan status Darurat Energi Nasional yang berlaku selama satu tahun.
Keputusan ini diambil setelah pasokan minyak dan gas global terganggu akibat perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, termasuk penutupan jalur vital di Selat Hormuz. Presiden Marcos Jr. memperingatkan adanya “ancaman yang segera terjadi” terhadap “ketersediaan dan stabilitas pasokan energi negara” akibat konflik yang telah berkecamuk hampir satu bulan tersebut.
Garis Depan Krisis Ekonomi
Bagi warga seperti mereka yang melintas di Commonwealth Avenue, status darurat ini bukan sekadar dokumen politik, melainkan perjuangan fisik setiap pagi. Krisis energi telah mengubah rutinitas kaum komuter di Filipina menjadi perlombaan fisik untuk mendapatkan tumpangan di tengah keterbatasan.
Hingga berita ini diturunkan, pemerintah Filipina masih terus mengupayakan skema bantuan subsidi BBM guna meredam aksi mogok massal yang diprediksi akan semakin melumpuhkan mobilitas ekonomi di ibu kota.***
Editor : Alysa
Sumber : cnnindonesia.com














