Israel Blokir Patriark Latin Yerusalem, Misa Minggu Palma di Gereja Makam Kudus Batal Digelar

0
Israel
Ilustrasi Bendera Israel robek.Foto : Istock

NARASITODAY.COM,YERUSALEMUntuk pertama kalinya dalam hitungan abad, denting lonceng Minggu Palma di Gereja Makam Kudus tidak diiringi dengan kehadiran pemimpin tertinggi Katolik Latin di Yerusalem. Pada Minggu (29/3/2026), langkah kaki Patriark Pierbattista Pizzaballa terhenti bukan oleh jarak, melainkan oleh blokade polisi Israel.

Insiden yang terjadi di tengah memanasnya eskalasi konflik Timur Tengah ini memicu gelombang kecaman internasional dan disebut sebagai “preseden serius” yang melukai kebebasan beribadah di tanah suci.

Tradisi Berabad-abad yang Terputus

Biasanya, Minggu Palma menjadi momen penuh sukacita yang menandai masuknya Yesus ke Yerusalem. Namun, tahun ini, suasana syahdu itu berganti tegang. Pizzaballa, yang didampingi Penjaga Tanah Suci Romo Francesco Ielpo, dipaksa berbalik arah saat mencoba memasuki situs yang diyakini sebagai lokasi penyaliban dan kebangkitan Kristus tersebut.

“Pagi ini, Polisi Israel mencegah Patriark Latin Yerusalem … bersama dengan Penjaga Tanah Suci, Yang Mulia Romo Francesco Ielpo … memasuki Gereja Makam Kudus di Yerusalem ketika mereka dalam perjalanan untuk merayakan Misa Minggu Palma,” demikian pernyataan resmi Patriarkat, dikutip Senin (30/3/2026).

Baca Juga :  Kabinet Keamanan Israel Resmi Setujui Aturan Baru untuk Penguatan Kendali di Tepi Barat

Pihak Patriarkat menyayangkan tindakan ini karena Pizzaballa datang secara pribadi tanpa prosesi seremonial besar. Mereka menyebut keputusan tersebut sebagai “tindakan yang tidak masuk akal dan sangat tidak proporsional” yang mengabaikan sensitivitas umat Kristen dunia.

Alasan Keselamatan di Zona Konflik

Otoritas Israel berkilah bahwa larangan tersebut murni demi keamanan, mengingat situasi perang yang pecah sejak akhir Februari lalu. Kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan di platform X bahwa polisi “tidak memiliki niat jahat sama sekali, hanya kekhawatiran atas keselamatan dirinya dan rombongannya.”

Polisi Israel menambahkan bahwa arsitektur Kota Tua yang sempit sangat berisiko jika terjadi insiden darurat massal.

“Kota Tua dan situs suci merupakan area kompleks yang tidak memungkinkan akses kendaraan darurat dan penyelamatan besar, yang secara signifikan menantang kemampuan respons dan menimbulkan risiko nyata terhadap kehidupan manusia jika terjadi insiden korban massal,” jelas pihak kepolisian.

Baca Juga :  Gelar Safari Ramadan, Solusi Bangun Indonesia Pabrik Narogong Bagikan Santunan untuk Sahabat Difabel dan Anak Yatim

Argumen ini diperkuat dengan temuan fragmen rudal di atap dekat Gereja Makam Kudus pada pertengahan Maret lalu, yang menunjukkan betapa rentannya wilayah tersebut dari jangkauan konflik bersenjata.

Pesan Harapan dari Bukit Zaitun

Meski aksesnya ke Gereja Makam Kudus terputus, tugas kegembalaan Pizzaballa tidak berhenti. Ia akhirnya memimpin misa di Gereja Getsemani (Church of All Nations) di kaki Bukit Zaitun. Di hadapan jemaat kecil, ia menyampaikan khotbah yang menyentuh relung hati para penganutnya di tengah kecemasan perang.

“Perang tidak akan menghapus kebangkitan. Duka tidak akan memadamkan harapan,” tutur Pizzaballa dengan tenang. “Hari ini, kita tidak membawa daun palma dalam prosesi. Sebaliknya, kita membawa salib, salib yang bukan beban sia-sia, tetapi sumber damai sejati.”

Baca Juga :  Situasi Timur Tengah Memanas, Iran Ambil Langkah Ekstrem di Sektor Penerbangan

Tindakan polisi Israel ini segera memicu reaksi keras dari para pemimpin dunia. Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menyebut insiden ini sebagai penghinaan terhadap kebebasan beragama. Sementara itu, Paus Leo XIV dari Vatikan menyampaikan simpatinya bagi umat di Timur Tengah.

“Umat Kristen Timur Tengah, yang menderita akibat konflik mengerikan dan dalam banyak kasus tidak dapat sepenuhnya menjalani ritual hari-hari suci ini,” ujar Paus saat doa Angelus.

Senada dengan itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengecam langkah tersebut sebagai pelanggaran terhadap status quo tempat suci, disusul protes diplomatik dari Yordania yang mendesak penghentian pembatasan akses ibadah.

Di sudut-sudut Kota Tua Yerusalem, jalanan tetap sepi dan toko-toko tertutup rapat. Bagi umat di sana, Minggu Palma tahun ini bukan tentang kemeriahan arak-arakan, melainkan tentang ketabahan menjaga iman di tengah sunyinya kota yang sedang terluka.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com