Erdogan Tuding Israel Aktor Utama Perang Ilegal yang Mengguncang Ekonomi Dunia

0
Erdogan
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.Foto : dmi.or.id

NARASITODAY.COM, ANKARA – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan melontarkan kritik tajam terhadap pemerintah Israel, menyebutnya sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas pecahnya “perang ilegal” dengan Iran. Konflik yang telah berkecamuk lebih dari sebulan ini kini bukan sekadar urusan dua negara, melainkan telah menjadi beban global seiring tertutupnya Selat Hormuz yang memicu lonjakan harga minyak dunia.

Di hadapan pertemuan kelompok parlemen Partai Keadilan dan Pembangunan (AK) di Ankara, Erdogan menggambarkan situasi saat ini sebagai petaka yang mengancam stabilitas umat manusia. Ia menilai ambisi politik tertentu telah mengorbankan perdamaian kawasan.

Dampak Ekonomi dan Kelangsungan Politik

Dalam pidatonya yang berapi-api, Erdogan menyoroti bagaimana eskalasi militer ini berdampak langsung pada dompet penduduk dunia. Serangan terhadap infrastruktur energi dan jalur transportasi laut telah menciptakan guncangan ekonomi yang masif.

Baca Juga :  Viral Kenaikan Sewa Kios di District Blok M, Gubernur Pramono Anung Turun Tangan

“Pemerintah Israel memikul tanggung jawab utama atas perang ilegal ini, yang tidak hanya mengubah kawasan kita menjadi zona konflik tetapi juga telah membebani perekonomian seluruh umat manusia,” ujar Erdogan pada Rabu (1/4/2026), dikutip dari Anadolu.

Tak hanya itu, pemimpin Turki ini juga menuding adanya motif personal di balik berkepanjangannya konflik ini. Ia merujuk pada posisi Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang dinilainya mendapat keuntungan politik dari situasi perang.

“Jangan sampai dilupakan bahwa setiap tetes darah yang tertumpah dalam perang akan memperpanjang kelangsungan politik Netanyahu,” cetusnya ketir.

Mencegah Api Regional Membesar

Erdogan memperingatkan bahwa konflik yang dimulai sejak 28 Februari lalu ini kini berada pada titik yang sangat berbahaya. Kekhawatiran terbesarnya adalah transformasi perang ini menjadi konflik regional yang jauh lebih luas dan tak terkendali.

Baca Juga :  53 Warga Cianjur Tumbang Diduga Gegara Keracunan Setelah Santap Nasi Kotak Tahlilan

Saat ini, Turki tengah berupaya keras untuk tetap berdiri di jalur diplomasi tanpa harus terseret lebih jauh ke dalam pusaran kekerasan.

“Di antara bahaya utama yang dihadapi wilayah kita bukan hanya perpanjangan perang, tetapi juga risiko berkembangnya menjadi konflik regional yang lebih luas,” tegas Erdogan.

Ia menambahkan bahwa serangan balasan yang menyasar sektor energi, transportasi, dan infrastruktur sipil hanya akan menyiram bensin ke dalam api eskalasi.

Diplomasi Sunyi di Balik Layar

Di tengah dentuman senjata, Ankara terus menggerakkan mesin diplomasinya. Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, dilaporkan telah melakukan pertemuan strategis di Islamabad bersama perwakilan dari Arab Saudi, Mesir, dan Pakistan guna mencari jalan keluar dari krisis ini.

Baca Juga :  Rokok Ilegal Meningkat, Cukai Rokok Dinilai Tak Efektif Kurangi Konsumsi

Di lini lain, Menteri Pertahanan Nasional Yasar Guler dan Kepala Intelijen Ibrahim Kalin juga menjalankan upaya intensif di bidang masing-masing untuk meredam ketegangan.

Erdogan menegaskan bahwa senjata harus segera dibungkam demi kemanusiaan. Ia percaya bahwa dialog tetap merupakan satu-satunya jalan keluar yang rasional.

“Jika ada secercah harapan untuk mengakhiri pertumpahan darah, untuk mengeringkan air mata, dan untuk membungkam senjata, adalah tugas kita untuk meraihnya. Diplomasi, dialog, dan kompromi adalah alat terbaik yang tersedia untuk keluar dari kebuntuan ini,” pungkasnya.

Hingga saat ini, dunia masih menanti apakah seruan diplomasi dari Ankara ini mampu menembus kebisingan perang di Timur Tengah yang kian tak menentu.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com