Rusia Tegaskan Tidak Akan Jual Minyak ke Negara Pendukung Skema Pembatasan Harga di Tengah Ketegangan Global

0
Rusia
Ilustrasi bendera rusia. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, MOSKOW Di tengah bayang-bayang langit Timur Tengah yang membara dan meroketnya permintaan energi global, Rusia mengambil langkah tegas. Kremlin memastikan tidak akan menjual setetes pun minyak ke negara-negara yang mendukung skema pembatasan harga (price cap), sebuah kebijakan yang mereka labeli sebagai tindakan “antipasar”.

Ketegangan ini mencuat saat pasar energi dunia sedang berada di titik nadir volatilitas. Konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran yang berujung pada penutupan Selat Hormuz jalur nadi bagi seperlima pasokan minyak dunia telah memaksa harga minyak melambung hampir 50% hingga menyentuh angka US$120 awal bulan ini.

Ketegasan di Tengah Krisis

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Andrey Rudenko, menegaskan bahwa posisi Moskow tidak akan goyah meski pasar sedang haus akan pasokan. Rusia tetap menutup pintu bagi negara-negara anggota G7 dan Australia yang sejak 2022 telah menghentikan impor energi Rusia sebagai bentuk dukungan terhadap Ukraina.

Baca Juga :  Revolusi Komputasi Kuantum: China Tunjukkan Terobosan dengan Zuchongzhi 3.0

“Pasar energi sedang fluktuatif akibat pengetatan pasokan dan kenaikan harga. Rusia tidak akan menjual minyak kepada negara-negara provokatif,” ujar Rudenko dalam wawancaranya dengan Izvestia, dikutip Sabtu (4/4/2026).

Rudenko juga menyentil Jepang yang hingga kini masih terjebak dalam dilema antara kebutuhan energi dan aliansi politik. Menurutnya, kepatuhan Tokyo pada aturan pembatasan harga hanya memperburuk keretakan distribusi energi dunia.

“Tokyo terikat oleh pembatasan harga, yang merupakan tindakan antipasar dan mengganggu rantai pasokan,” tambahnya.

Baca Juga :  Sembari Memohon Maaf, Bupati Terpilih Rudy Susmanto Ucapkan Terima Kasih kepada Semua Pihak

Krisis energi yang kian mencekik memaksa Amerika Serikat mengambil langkah pragmatis yang ironis. Washington memberikan pengecualian sementara (lisensi) hingga 11 April 2026 bagi minyak Rusia yang dimuat sebelum 12 Maret.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengakui langkah ini adalah manuver strategis untuk menyeimbangkan pasar global, meskipun ia sadar hal ini memberikan napas segar bagi pendapatan Moskow di tengah ketegangan geopolitik.

Dinamika Harga dan Pergeseran Pasar Asia

Di saat negara-negara Barat masih bergulat dengan sanksi, Rusia justru menikmati “durian runtuh” dari pasar Asia. Minyak mentah jenis Urals yang dulu ditekan di bawah US$44, kini justru laku keras dengan harga premium. Pada 19 Maret 2026, harganya meroket ke US$121,5 per barel, sebuah lompatan dramatis dari posisi US$12 di awal Maret.

Baca Juga :  Polri Mutasi 60 Perwira, Brimob dan Intelijen Alami Pergantian Pucuk Pimpinan

Fenomena ini memicu gelombang minat dari negara-negara Asia Tenggara yang ingin mengamankan ketahanan energi domestik mereka.

  • India dan China: Tetap menjadi pembeli utama dengan skema pengecualian.
  • ASEAN: Indonesia, Thailand, Filipina, hingga Vietnam mulai menunjukkan ketertarikan kuat untuk menyerap kargo minyak Rusia guna meredam dampak kenaikan harga BBM di dalam negeri.

Hingga saat ini, Rusia tetap memegang kendali atas “keran” energinya, memilih rekan dagang berdasarkan loyalitas pasar ketimbang tekanan politik internasional.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com