Iran Deklarasikan Perang Skala Penuh Melawan AS dan Sekutunya, Trump Berjanji Tanggap Tegas

0
Islamabad
Ilustrasi bendera Amerika Serikat dan Iran. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, TEHERAN – Presiden Iran Masoud Pezeshkian melontarkan pernyataan mengejutkan dengan menyebut negaranya kini berada dalam dekapan “perang skala penuh” melawan Amerika Serikat, Israel, dan Eropa. Ketegangan ini disebutnya lebih berbahaya dan kompleks dibandingkan horor Perang Iran-Irak yang pecah pada dekade 1980-an.

Pernyataan ini muncul melalui wawancara mendalam yang dipublikasikan di situs resmi Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada awal Januari 2026. Pezeshkian memberikan gambaran suram mengenai stabilitas kawasan yang kini berada di titik nadir.

Bagi masyarakat Iran, membandingkan situasi saat ini dengan perang melawan Irak (1980-1988) adalah peringatan tingkat tinggi. Konflik delapan tahun silam itu merenggut satu juta nyawa, namun Pezeshkian menilai musuh yang dihadapi saat ini jauh lebih licin karena menyerang dari berbagai lini.

Baca Juga :  AS Tetapkan Ikhwanul Muslimin sebagai Organisasi Teroris, Trump Dorong Eskalasi Tekanan Global

“Kami berada dalam perang skala penuh dengan Amerika Serikat, Israel, dan Eropa; mereka tidak ingin negara kami tetap stabil,” kata Pezeshkian dalam wawancara tersebut, sebagaimana dikutip dari The Associated Press, Kamis (1/1/2026).

Pezeshkian menegaskan bahwa serangan yang dihadapi Teheran saat ini bukan sekadar adu artileri di garis depan, melainkan kepungan dimensi ekonomi, politik, dan keamanan yang saling mengunci. Ia menyebut perang ini “lebih rumit dan lebih sulit” dibandingkan konflik masa lalu yang menewaskan jutaan orang tersebut.

Baca Juga :  Masa Depan Karier Kim Soo Hyun Terancam Usai Skandal dan Gugatan Hukum

Sentuhan feature dalam laporan ini tak lepas dari luka sisa serangan udara 12 hari pada Juni lalu. Operasi militer Israel dan AS kala itu menyisakan duka bagi Teheran dengan gugurnya hampir 1.100 warga Iran, termasuk jajaran komandan senior dan ilmuwan nuklir kebanggaan negara.

Luka itu dibalas Iran dengan hujan rudal yang menghantam wilayah Israel dan menewaskan 28 orang. Kini, alih-alih mereda, genderang perang justru ditabuh lebih kencang dari Mar-a-Lago, Florida.

Di sisi lain samudera, Presiden AS Donald Trump baru saja menyelesaikan pertemuan krusial dengan PM Israel Benjamin Netanyahu. Dengan nada bicara yang agresif, Trump memberi sinyal hijau untuk menggempur jantung kekuatan Iran, termasuk fasilitas nuklir dan lokasi peluncuran rudal yang selama ini menjadi “garis merah” bagi Teheran.

Baca Juga :  Krisis Petani: Mengapa Mereka Enggan Menanam Cabai di Tengah Prediksi Lonjakan Harga?

Trump secara eksplisit menyatakan tidak akan memberikan ruang bagi Iran untuk memulihkan diri pasca-insiden Juni lalu. Ancaman ini menjadi babak baru yang lebih berbahaya karena AS kini secara terbuka membidik fasilitas rudal Iran.

“Sekarang saya mendengar Iran mencoba membangun kekuatannya kembali, dan jika mereka melakukannya, kita harus menjatuhkan mereka. Kami akan menghancurkan mereka habis-habisan,” ujar Trump di hadapan wartawan.

Pernyataan kedua pemimpin ini menandai awal tahun 2026 yang mencekam, di mana diplomasi tampaknya kian terkubur oleh retorika penghancuran di kedua belah pihak.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com