NARASITODAY.COM,TEL AVIVĀ – Timur Tengah berada di ambang konfrontasi besar. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengeluarkan peringatan keras bahwa pihaknya tidak akan ragu untuk memburu para pemimpin Iran dan menghancurkan aset strategis Teheran jika hujan rudal ke wilayahnya tidak segera berhenti.
Pernyataan ini muncul menyusul serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) terbaru yang diluncurkan Iran ke arah Israel dan Kuwait pada Minggu (5/4/2026). Meski sistem pertahanan udara kedua negara diklaim berhasil menangkal serangan tersebut, eskalasi militer ini menandai babak baru perseteruan yang kian personal dan mematikan.
Dalam sebuah pernyataan video yang dilansir dari AFP, Katz menegaskan bahwa infrastruktur nasional Iran kini masuk dalam daftar target utama.
“Selama serangan rudal terus menargetkan warga sipil Israel, Iran akan membayar harga yang mahal, yang akan merusak dan pada akhirnya melumpuhkan infrastruktur nasionalnya dan kapasitas operasional rezim,” tegas Katz.
Katz menambahkan bahwa operasi militer Israel tidak hanya menyasar fisik bangunan, tetapi juga figur-figur kunci di balik layar.
“Pada saat yang sama, kami akan terus mengejar dan menetralisir kepemimpinan teror, dan menyerang target keamanan dan aset strategis di seluruh Iran,” sambungnya.
Ekonomi Iran dalam Bidikan
Sentuhan kehancuran mulai terasa di sektor ekonomi Iran. Dalam beberapa hari terakhir, Israel dengan sokongan intelijen dan militer Amerika Serikat (AS) telah menggempur fasilitas baja serta petrokimia Iran. Sektor-sektor ini dituduh menjadi “mesin uang” bagi Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) untuk membiayai produksi senjata.
Langkah militer ini sejalan dengan tekanan diplomatik luar biasa dari Gedung Putih. Presiden AS Donald Trump telah melayangkan ultimatum yang menggetarkan peta politik global: Iran diberi waktu 48 jam untuk mencapai kesepakatan nuklir atau membuka kembali Selat Hormuz jalur nadi minyak dunia yang kini diblokade.
Ketegangan mencapai puncaknya melalui unggahan dan pernyataan resmi Trump. Ia mengancam akan “menghancurkan” seluruh pembangkit listrik di Iran jika peringatan tersebut diabaikan. Narasi yang digunakan Trump jauh dari kata diplomatis, melainkan lebih menyerupai genderang perang.
“Waktu hampir habis 48 jam sebelum neraka menimpa mereka,” ancam Trump.
Di Teheran, gertakan tersebut disambut dengan nada dingin. Pemerintah Iran menolak mentah-mentah ultimatum tersebut dan justru menyebut ancaman Trump sebagai representasi dari tindakan seorang pemimpin yang “tidak berdaya sekaligus gugup.”
Kini, dunia tengah menahan napas. Dengan hitung mundur 48 jam yang terus berjalan, kawasan Selat Hormuz bukan lagi sekadar jalur dagang, melainkan sumbu pendek yang siap meledakkan stabilitas keamanan dan ekonomi internasional kapan saja.***
Editor : Alysa
Sumber : cnnindonesia.com













