Iran Nilai Sikap Trump Menantang Ultimatum Perang Sebagai Ungkap Karakter Asli Amerika

0
Iran
Saeed Jalili, anggota Dewan Penentu Kebijakan (Expediency Discernment Council) Iran.Foto : csmonitor.com

NARASITODAY.COM, TEHERANKetegangan di Timur Tengah mencapai titik didih tertinggi setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan ultimatum perang yang mengerikan terhadap Iran. Namun, bukannya gentar, Teheran justru menanggapi ancaman tersebut dengan ejekan, menyebut sang presiden berusia 79 tahun itu sebagai sosok yang “banyak omong”.

Saeed Jalili, anggota Dewan Penentu Kebijakan (Expediency Discernment Council) Iran, menilai bahwa mendiamkan retorika keras Trump bukanlah strategi yang tepat. Baginya, setiap kata yang keluar dari mulut Trump justru menjadi bumerang yang memperlihatkan sisi gelap politik luar negeri Amerika.

“‘Diam saja’ bukan respons yang tepat terhadap ocehan Trump dan biarkan dia berbicara lebih banyak,” tulis Jalili melalui unggahannya di platform X. Ia menambahkan, “Tidak ada yang lebih efektif dalam memperlihatkan wajah asli Amerika Serikat selain luapan pernyataan Trump.”

Baca Juga :  IBA Sebut IOC Langgar Kesetaraan Gender, Gugat Penggunaan Atlet Transgender di Tinju Olimpiade

Ultimatum di Ambang Tengah Malam

Ketegangan ini berakar dari konferensi pers di Gedung Putih pada Senin (6/4/2026), di mana Trump memberikan ancaman ekstrem untuk “melenyapkan” Iran dalam satu malam jika Selat Hormuz tidak segera dibuka untuk jalur navigasi internasional.

Dengan gaya bicaranya yang meledak-ledak, Trump mengklaim kekuatan militer AS mampu melumpuhkan seluruh infrastruktur vital Iran hanya dalam hitungan jam sebelum tenggat waktu berakhir pada Selasa (7/4/2026) pukul 20.00 waktu Iran.

“Kami punya rencana, karena kekuatan militer kami, di mana setiap jembatan di Iran akan hancur lebur pada pukul 12 tengah malam besok [7 April], di mana setiap pembangkit listrik di Iran akan berhenti beroperasi, terbakar, meledak, dan tidak akan pernah digunakan lagi, maksud saya hancur total, pada pukul 12 tengah malam,” tegas Trump sebagaimana dikutip dari Al Jazeera.

Baca Juga :  Trump Sebut Paus Leo XIV Membahayakan Umat Katolik dengan Dukungan Iran, Apa Kata Vatikan?

Ia bahkan sesumbar mengenai efisiensi serangan tersebut. “Dan itu akan terjadi dalam jangka waktu empat jam jika kita menginginkannya. Kita tidak ingin itu terjadi,” imbuhnya.

Di sisi lain, angkatan bersenjata Iran tampak tidak goyah sedikit pun. Pihak militer menegaskan bahwa retorika “angkuh” dari Washington tidak akan menyurutkan operasi ofensif mereka di kawasan.

Juru bicara markas komando pusat Iran Khatam Al Anbiya, dalam siaran nasionalnya, menyebut Trump sebagai pemimpin yang kehilangan kontak dengan realitas.

“Retorika kasar, arogan, dan ancaman tak berdasar dari presiden AS yang delusional… tidak berdampak pada kelanjutan operasi ofensif dan menghancurkan yang dilakukan para pejuang Islam terhadap musuh Amerika dan Zionis,” tegas sang juru bicara.

Baca Juga :  Polisi Kerahkan Tim K-9 Cari Korban Kecelakaan Pesawat di Gunung Bulusaraung

Dunia Menahan Napas

Saat jarum jam terus bergerak mendekati tenggat waktu pukul 20.00 waktu setempat, dunia internasional kini menaruh perhatian penuh pada Selat Hormuz. Jalur perdagangan energi paling krusial di dunia itu kini menjadi pusat dari perjudian geopolitik tingkat tinggi.

Apakah ini hanya gertakan diplomasi “pingpong” ataukah awal dari konfrontasi militer terbuka yang akan mengubah wajah Timur Tengah selamanya? Hingga berita ini diturunkan, militer Iran tetap pada posisinya, sementara armada tempur Amerika Serikat dilaporkan telah berada dalam kondisi siaga penuh.***

Editor : Alysa

Sumber : cnnindonesia.com