Trump Kembali Kritik NATO dan Sekutu Sekaligus Ungkap Ketidakpuasan Terhadap Bantuan Militer

0
Cuaca ekstrem
Presiden Amerika Serikat Donald Trump.Foto : bbc.com

NARASITODAY.COM, WASHINGTON D.C –Di tengah berkecamuknya konflik bersenjata di Timur Tengah, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan kritik pedas terhadap para sekutu militernya. Trump menuding Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) serta negara-negara mitra di Asia-Pasifik bersikap pasif dan enggan membantu AS dalam peperangan melawan Iran yang telah pecah sejak 28 Februari lalu.

Dalam konferensi pers di Gedung Putih pada Senin (6/4/2026), Trump mengekspresikan kekecewaannya terhadap respons kolektif para sekutu globalnya.

“Begini, kami ke NATO. Saya tidak meminta dengan tegas, saya hanya berkata, ‘Hei, jika Anda ingin membantu, bagus’,” ucap Trump sebagaimana dikutip dari AFP.

Namun, menurut Trump, aliansi tersebut justru tidak menunjukkan upaya nyata untuk berdiri di samping Washington dalam konflik ini. Dengan nada sarkastis, ia kembali menyematkan label negatif pada organisasi pertahanan terbesar di dunia tersebut.

Baca Juga :  Harga Pangan Dunia Naik ke Titik Tertinggi 2 Tahun, Minyak Nabati Jadi Pemicu Utama

“Aliansi itu adalah macan kertas,” imbuh Trump, merujuk pada istilah untuk pihak yang tampak perkasa di permukaan namun lemah dalam tindakan.

Kemarahan Trump tidak berhenti di daratan Eropa. Ia turut menyeret nama Korea Selatan, Jepang, hingga Australia ke dalam pusaran kritikannya. Trump membandingkan absennya bantuan para sekutu tersebut dengan besarnya sumber daya yang telah dikucurkan AS untuk melindungi mereka selama puluhan tahun.

Trump menyoroti keberadaan basis militer AS di Asia Timur yang bertujuan membendung ancaman nuklir Korea Utara. Ia merasa pengorbanan logistik dan personel AS selama ini tidak mendapat balasan yang setimpal saat Washington membutuhkan dukungan di medan perang Iran.

Baca Juga :  Terjerat Konflik Timur Tengah, Ekonomi dan Pariwisata Uni Emirat Arab Mulai Terguncang

“Kita punya 50 ribu tentara di Jepang untuk melindungi mereka dari Korea Utara. Kami juga punya 45.000 prajurit di Korea Selatan. Tapi mereka tak berbuat apa-apa,” tegas Trump dalam kutipan yang dilansir Al Jazeera.

Perselisihan Greenland dan Konteks Perang

Secara mengejutkan, Trump juga mengungkap bahwa ketegangan antara AS dan NATO berakar dari ambisi lamanya untuk mencaplok Greenland. Penolakan aliansi terhadap rencana imperialis tersebut tampaknya menjadi duri dalam hubungan diplomatik mereka.

“Kami menginginkan Greenland. Mereka tidak mau memberikannya kepada kami. Dan saya berkata, ‘selamat tinggal’,” kata Trump mengungkap asal-muasal keretakan hubungannya dengan blok Barat tersebut.

Baca Juga :  Harga Tiket Penerbangan Internasional di Taiwan Melonjak Tajam Akibat Kenaikan Harga Minyak Global

Konteks ketegangan ini terjadi di saat eskalasi militer di Iran berada pada titik nadir. Agresi AS dan Israel pada akhir Februari lalu dilaporkan telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei serta ribuan warga sipil. Sebagai balasan dan langkah defensif, Iran menutup total Selat Hormuz jalur nadi utama perdagangan minyak dunia yang kini memicu krisis energi global.

Di tengah situasi yang kian terjepit ini, Trump tampaknya mulai merasa berjalan sendirian tanpa dukungan dari struktur aliansi yang selama ini ia anggap sebagai beban finansial bagi Amerika Serikat.***

Editor : Alysa

Sumber : cnnindonesia.com