
NARASITODAY.COM, ABU DHABI – Ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel kini menyeret Uni Emirat Arab (UEA) ke pusaran konflik. Negara Teluk yang selama puluhan tahun dikenal sebagai pusat bisnis global yang aman dan stabil tersebut, kini harus menghadapi kenyataan pahit setelah menjadi salah satu wilayah yang paling banyak menerima gempuran rudal dan drone.
Melansir laporan The Associated Press, Rabu (20/5/2026), eskalasi militer ini, ditambah dengan kendali ketat Iran atas Selat Hormuz, telah memangkas ekspor minyak mentah dan gas alam UEA hingga lebih dari separuh.
Guna mengamankan pasokan energinya dalam jangka panjang, UEA dilaporkan mulai mempercepat pembangunan jalur pipa baru untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz, serta mengambil langkah besar untuk keluar dari kartel minyak OPEC agar dapat menggenjot produksi secara mandiri.
Meski gencatan senjata rapuh tengah berlangsung, risiko keamanan di UEA tetap berada di level tertinggi. Hal ini terbukti setelah sebuah serangan drone menyasar Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Barakah pada Minggu lalu. Merespons ancaman tersebut, pemerintah UEA bersikap tegas. Dalam pernyataan resminya, Kementerian Luar Negeri UEA menegaskan posisi kedaulatan mereka.
“Pemerintah tidak akan mentoleransi ancaman apa pun terhadap keamanan dan kedaulatannya dalam keadaan apapun,” tulis Kementerian Luar Negeri UEA pada Minggu malam.
UEA juga menegaskan pihaknya “memiliki hak penuh, sah, berdaulat, diplomatik, dan militer untuk merespons setiap ancaman, tuduhan, atau tindakan permusuhan.”
Kebijakan Agresif di Balik Tirai Monarki
Secara politik, keputusan strategis federasi tujuh emirat ini didominasi oleh penguasa Abu Dhabi, Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan. Di bawah kepemimpinannya, UEA dikenal menerapkan kebijakan luar negeri yang jauh lebih agresif dalam beberapa dekade terakhir, termasuk keterlibatan dalam perang Yaman melawan Houthi.
Sheikh Mohammed sendiri dikenal jarang berbicara di depan publik. Namun, sebuah pernyataan singkatnya saat mengunjungi korban serangan Iran di rumah sakit pada Maret lalu kini kembali menjadi sorotan dunia internasional.
“UEA itu menarik, UEA itu indah, UEA adalah sebuah model. Tetapi saya katakan kepada mereka: jangan tertipu oleh penampilan UEA,” ujar Sheikh Mohammed ketika itu.
“UEA memiliki kulit yang tebal dan daging yang pahit; kami bukan mangsa yang mudah.”
Hotel Sepi dan Trauma Dentuman Sirene
Yang kontras kini sangat terasa di Dubai, kota yang biasanya gemerlap oleh lampu pariwisata dan konferensi internasional. Sektor yang menyumbang 12% ekonomi negara ini mulai terpukul keras.
Sejak perang pecah pada 28 Febrari lalu, lebih dari 70 acara internasional ditunda atau dibatalkan akibat kendala asuransi dan tingginya risiko keamanan, demikian menurut data Northbourne Advisory.
Di sudut-sudut kota, atmosfer kecemasan membayangi komunitas bisnis. Pada 4 Mei lalu, maskapai Emirates sempat mengumumkan operasional Bandara Internasional Dubai kembali normal.
Namun di hari yang sama, serangan rudal susulan dari Iran kembali memicu alarm peringatan di ponsel-ponsel warga. Bandara Dubai bahkan dilaporkan mulai membangun struktur pelindung darurat di sekitar tangki bahan bakar pesawat.
Pemandangan lesu juga terlihat di sektor perhotelan. Hotel ikonik berbentuk layar kapal, Burj Al Arab, memilih menutup sementara operasionalnya untuk renovasi di tengah anjloknya angka kunjungan.
Moody’s Analytics memperkirakan tingkat hunian hotel di Dubai merosot tajam dari 80% sebelum perang menjadi hanya 20%, dan diprediksi bisa jatuh hingga 10% pada kuartal Juni ini.
Kondisi dilematis Dubai ini dirangkum oleh Institute of International Finance dalam analisisnya yang terbit Senin lalu:
“Keterbukaan Dubai membuatnya rentan terhadap guncangan dalam perjalanan, logistik, dan kepercayaan, sementara neraca Abu Dhabi dan aset energinya memberi federasi kapasitas untuk menyerap pukulan.”
Perlawanan Melalui Seni
Di tengah bayang-bayang kecemasan tersebut, Dubai tetap berupaya menunjukkan geliat kehidupannya. Akhir pekan lalu, pameran seni tahunan Art Dubai tetap digelar meski dalam skala yang jauh lebih kecil.
Nuansa magis sekaligus mencekam terasa di ruang pameran, terlebih karena pembukaannya bertepatan dengan momen penyitaan sebuah kapal oleh Iran di dekat pelabuhan Fujairah.
Para seniman memanfaatkan ruang ini untuk merefleksikan situasi kritis di kawasan. Solimán López, seorang seniman asal Spanyol, menampilkan karya bertema perebutan sumber daya alam global.
“Namun saya bilang saya harus melakukan yang terbaik, karena saya percaya ini adalah konteks yang sempurna untuk membicarakan hal ini di kawasan,” kata Solimán López.
Semangat bertahan di tengah konflik juga disuarakan oleh Alfred Tarazi, seniman asal Beirut yang mengingat kembali memoar keluarganya yang berhasil melewati dua perang dunia.
“Kehidupan tidak berhenti dalam perang dunia,” ujarnya. “Kita hanya bisa melawan narasi kekerasan dengan budaya.”.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com












