Harga Tiket Penerbangan Internasional di Taiwan Melonjak Tajam Akibat Kenaikan Harga Minyak Global

0
Jepang
Ilustrasi Pesawat terbang di langit.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, TAIPEIMelambungnya tensi geopolitik di Timur Tengah mulai memukul kantong para pelancong di Asia Timur. Mulai 7 April mendatang, harga tiket penerbangan internasional di Taiwan dipastikan melonjak tajam hingga 157%. Kenaikan drastis ini merupakan imbas langsung dari meroketnya harga minyak global yang dipicu oleh konflik bersenjata antara Amerika Serikat-Israel dan Iran.

Situasi kian genting setelah penutupan Selat Hormuz jalur nadi energi dunia membuat harga satu barel minyak Brent melompat 7% ke angka US$108,15 (sekitar Rp1,8 juta). Kondisi ini memaksa otoritas penerbangan dan maskapai besar untuk melakukan penyesuaian tarif guna bertahan hidup di tengah krisis energi.

Baca Juga :  Rokok Ilegal Meningkat, Cukai Rokok Dinilai Tak Efektif Kurangi Konsumsi

Badan Penerbangan Sipil (CAA) bersama Kementerian Perhubungan Taiwan telah memberikan lampu hijau bagi maskapai untuk menaikkan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge).

Bagi penumpang tujuan internasional, berikut adalah rincian kenaikannya:

  • Penerbangan Jarak Pendek: Naik dari US$27,5 (Rp467 ribu) menjadi US$45 (Rp765 ribu).
  • Penerbangan Jarak Jauh: Melonjak dari US$71,5 menjadi US$117 (sekitar Rp1,9 juta).

Raksasa dirgantara Taiwan, China Airlines dan Eva Air, telah mengonfirmasi pemberlakuan tarif baru ini. Efek domino ini tidak berhenti di rute internasional; tiket pesawat domestik pun ikut terkerek naik dengan rata-rata kenaikan sekitar US$3 per tiket.

Respons Maskapai Global

Baca Juga :  AS di Bawah Trump Akan Tarik Diri dari 66 Organisasi Internasional

Taiwan tidak sendirian dalam menghadapi badai ini. Di daratan China, Air China telah lebih dulu mengumumkan kenaikan biaya tambahan mulai 5 April. Di level global, maskapai ternama seperti Air France-KLM, Air India, Qantas, hingga SAS juga mulai mengoreksi tarif mereka demi menutupi biaya operasional yang membengkak.

Direktur Jenderal CAA, Ho Shu-ping, menekankan bahwa langkah ini adalah keputusan pahit yang harus diambil demi mengikuti realitas pasar energi dunia yang tidak menentu.

“Sebagai respon tren internasional, harga seringkali naik dan turun, jadi perlu melakukan penyesuaian untuk mencerminkan hal itu,” jelas Ho Shu-ping sebagaimana dikutip dari Straits Times, Jumat (3/4/2026).

Baca Juga :  42 Negara Sudah Kantongi Tiket Piala Dunia 2026, Enam Slot Terakhir Masih Diperebutkan

Menghitung Ulang Rencana Perjalanan

Bagi banyak warga Taiwan, kenaikan hingga 157% ini bukan sekadar angka di atas kertas. Ini berarti rencana liburan keluarga atau perjalanan bisnis lintas benua harus dihitung ulang dengan sangat cermat.

Sentimen pasar menunjukkan kekhawatiran bahwa jika konflik di Selat Hormuz terus berlanjut, industri penerbangan akan memasuki masa “hibernasi” paksa karena tingginya biaya mobilisasi. Pemandangan di loket-loket bandara kini berubah yaitu tak hanya penuh dengan antrean penumpang, tapi juga kerutan di dahi mereka yang terpaksa merogoh kocek jauh lebih dalam demi selembar tiket di tengah badai krisis minyak global.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com