NARASITODAY.COM, WASHINGTON D.C. – Aksi demonstrasi bertajuk “No Kings” kembali mengguncang Amerika Serikat pada Minggu (19/10/2025), dengan jutaan warga turun ke jalan di berbagai kota besar dan kecil. Gerakan ini merupakan bentuk penolakan terhadap gaya kepemimpinan Presiden Donald Trump yang dinilai semakin otoriter.
Protes nasional ini menjadi gelombang kedua setelah aksi serupa berlangsung pada bulan Juni lalu. Kali ini, demonstrasi digelar di tengah krisis penutupan pemerintahan federal yang menyebabkan berbagai layanan publik terhenti.
Frasa “No Kings” mencerminkan keresahan sebagian masyarakat yang menilai Presiden Trump bertindak layaknya seorang monarki, terutama karena sikapnya yang kerap menantang lembaga legislatif dan yudikatif. “Dari BI itu menyampaikan bahwa daerah itu ada di bank sebanyak Rp 233 triliun,” kata Tito, Senin (20/10/2025).
Menanggapi aksi tersebut, Presiden Trump memilih pendekatan yang kontroversial. Ia mengunggah sebuah video hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI) di platform Truth Social. Dalam video itu, versi digital dirinya tampak mengenakan mahkota dan duduk di atas jet tempur bertuliskan “King Trump”, diiringi lagu “Danger Zone” dari film Top Gun.
Jet tempur dalam klip tersebut digambarkan menjatuhkan cairan cokelat kental (brown sludge) ke arah demonstran, yang juga merupakan hasil rekayasa AI. Para pendukung Trump menyebut aksi massa itu sebagai “Hate America Rallies”.
Trump juga memberikan pernyataan langsung yang meremehkan demonstrasi tersebut. “Mereka bilang mereka menyebut saya raja. Saya bukan raja,” ujarnya. “Saya dengar sangat sedikit orang (yang) akan berada di sana, omong-omong, tetapi mereka memiliki hari mereka yang akan datang dan mereka ingin bersenang-senang.”
Meski mendapat cibiran dari Presiden, suasana demonstrasi di berbagai kota berlangsung meriah dan damai. Ribuan orang berkumpul di Portland, Oregon, serta di Washington D.C., Los Angeles, dan New York untuk menyuarakan tuntutan atas akuntabilitas dan perlindungan hak-hak sipil.
Beragam elemen kreatif turut mewarnai aksi, mulai dari marching band, spanduk besar, hingga effigy Presiden Trump. Di Seattle, seorang demonstran bahkan mengenakan kostum kepala besar Trump yang dirantai layaknya tahanan.
Penyelenggara menegaskan bahwa aksi ini bertujuan damai, sebagai tanggapan terhadap tudingan dari pihak Republik dan pemerintahan Trump yang menyebut demonstrasi berpotensi menimbulkan kerusuhan.
“Amerika tidak butuh raja. Kami butuh pemimpin yang menghormati konstitusi,” tegas salah satu peserta aksi.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber














