Imbas Kenaikan Harga Kedelai, Produsen Tahu dan Tempe Pakai Strategi Perkecil Ukuran Produk

0
Kenaikan harga
Ilustrasi tempe dan tahu.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, CIMAHI – Kenaikan harga kacang kedelai sebagai bahan baku utama tahu dan tempe dalam beberapa waktu terakhir memberikan tekanan besar bagi para pelaku usaha kecil. Lonjakan harga yang mencapai sekitar Rp10 ribu per kilogram membuat para perajin di Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, harus mencari strategi agar usaha mereka tetap berjalan.

Salah satu perajin tahu di Desa Kawali Mukti, Eno, mengungkapkan bahwa” kenaikan harga kedelai sangat berdampak pada biaya produksi yang harus ia tanggung”. Menurutnya, kondisi ini sudah berlangsung beberapa waktu dan semakin memberatkan.

Baca Juga :  5 Langkah Mudah untuk Mengatasi Rasa Takut dan Meningkatkan Kepercayaan Diri saat Berbicara di Depan Umum

Ia menjelaskan bahwa para perajin kini dihadapkan pada pilihan sulit. Untuk menjaga keberlangsungan usaha, mereka harus menentukan langkah yang paling memungkinkan, seperti mengurangi ukuran produk atau menaikkan harga jual.

Eno juga mengaku belum mengetahui secara pasti penyebab utama lonjakan harga tersebut. Namun, ia menduga hal ini berkaitan dengan ketergantungan Indonesia terhadap pasokan kedelai impor, sehingga perubahan harga di pasar global langsung berpengaruh di tingkat lokal.

Hal serupa disampaikan oleh Sugiono, seorang produsen tempe dari Desa Selasari. Ia menilai bahwa melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat turut memicu kenaikan harga kedelai impor. Selain itu, kemungkinan penurunan produksi dalam negeri juga dapat menjadi faktor penyebab.

Baca Juga :  Pertarungan Seru Antar Pemain Indonesia Warnai Babak 16 Besar Indonesia Open 2025

Sugiono menambahkan, dampak kenaikan harga ini tidak hanya dirasakan oleh produsen, tetapi juga oleh konsumen. Ketika biaya produksi meningkat, harga jual produk pun ikut terdorong naik, yang berpotensi menurunkan daya beli masyarakat.

Sebagai langkah antisipasi, banyak perajin memilih untuk mengecilkan ukuran tahu dan tempe agar harga tetap terjangkau. Cara ini dinilai lebih efektif untuk mempertahankan pelanggan di tengah kondisi ekonomi yang menekan.

Baca Juga :  Arab Saudi Tersingkir dari Piala Dunia 2026 Usai Ditahan Imbang Cape Verde

Namun demikian, jika strategi tersebut tidak dilakukan, kenaikan harga jual menjadi tidak terhindarkan. Terlebih lagi, biaya bahan pendukung seperti plastik juga mengalami kenaikan, sehingga semakin menambah beban produksi.

Kondisi ini membuat para perajin berharap adanya solusi jangka panjang, terutama terkait stabilitas harga bahan baku, agar usaha kecil seperti tahu dan tempe dapat terus bertahan di tengah tantangan ekonomi.***

Editor : Alysa

Sumber : HarapanRakyat.com