NARASITODAY.COM, BUDAPEST – Panggung politik Hungaria berguncang hebat pada Minggu (12/4/2026). Untuk pertama kalinya dalam 16 tahun, perdana menteri petahana Viktor Orban harus mengakui kekalahan dalam pemilihan umum yang mengakhiri dominasi panjangnya sejak 2010.
Hasil hitung sementara menunjukkan kekalahan telak partai Fidesz pimpinan Orban dari rival utamanya, Peter Magyar, yang memimpin partai oposisi tengah-kanan, Tisza. Berdasarkan 96,37 persen suara yang telah masuk, Tisza diproyeksikan mengamankan 138 kursi parlemen melampaui ambang batas mayoritas 133 kursi.
Pidato Kekalahan yang “Menyakitkan”
Di hadapan para pendukungnya yang terdiam, Orban yang kini berusia 62 tahun tampil dengan nada bicara yang tidak biasa. Ia tidak lagi menunjukkan retorika perlawanan yang selama ini menjadi ciri khasnya di Uni Eropa.
“Hasil pemilu ini jelas dan menyakitkan,” kata Orban singkat dalam pidatonya yang dilansir dari BBC.
Kemenangan ini menjadi puncak dari keresahan masyarakat Hungaria atas stagnasi ekonomi dan lonjakan biaya hidup yang mencekik selama beberapa tahun terakhir. Isu tentang gurita oligarki yang tumbuh subur di lingkaran pemerintah juga menjadi katalis utama berpindahnya kepercayaan rakyat ke tangan Peter Magyar.
Magyar mengonfirmasi bahwa Orban telah menunjukkan sikap sportif pasca-pemungutan suara.
“Viktor Orban baru saja menelepon saya dan mengucapkan selamat atas kemenangan kami,” ujar pemimpin oposisi tersebut.
Gelombang Kejut hingga ke Moskow dan Washington
Tumbangnya Orban bukan sekadar urusan domestik Budapest. Sebagai kepala negara dengan masa jabatan terlama di Uni Eropa, Orban dikenal sebagai “anak nakal” di Brussels karena kedekatannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Veto-veto Hungaria terhadap bantuan militer untuk Ukraina sering kali membuat sekutu NATO dan Uni Eropa meradang.
Kekalahan ini diprediksi akan mengirimkan gelombang kejut ke kalangan sayap kanan Barat, termasuk Amerika Serikat. Orban selama ini dipandang sebagai mentor intelektual bagi gerakan Make America Great Again (MAGA) milik Donald Trump. Trump sendiri berulang kali memuji Orban sebagai pembawa obor bagi nasionalisme Kristen.
Kejatuhan Orban menandai potensi berakhirnya model “demokrasi illiberal” yang ia bangun selama lebih dari satu dekade. Dengan Peter Magyar yang kini memegang kendali mayoritas, Hungaria diprediksi akan melakukan reorientasi kebijakan luar negeri yang lebih sinkron dengan Uni Eropa dan menjauh dari bayang-bayang Kremlin.
Dunia kini menanti, apakah kemenangan Magyar akan membawa Hungaria kembali ke arus utama demokrasi Eropa, ataukah ia akan menghadapi tantangan berat dalam membongkar sistem yang telah mengakar selama 16 tahun di bawah bayang-bayang Viktor Orban.***
Editor : Alysa
Sumber : cnnindonesia.com













