NARASITODAY.COM, ISLAMABAD – Dinginnya ruang meja perundingan pekan ini dipastikan akan tetap kosong. Setelah maraton diplomasi yang melelahkan, Amerika Serikat (AS) dan Iran memutuskan untuk menunda negosiasi damai hingga pekan depan. Islamabad, ibu kota Pakistan, diproyeksikan kembali menjadi saksi bisu upaya kedua negara meredam bara konflik yang mengancam stabilitas global.
Dua pejabat senior Pakistan, yang berbicara dalam balutan anonimitas karena sensitivitas isu ini, mengungkapkan bahwa kedua belah pihak tengah memfinalisasi detail putaran kedua perundingan di wilayah mereka.
Optimisme di Tengah Kebuntuan
Meski putaran pertama yang berlangsung selama 21 jam berakhir tanpa jabat tangan kesepakatan, Gedung Putih tetap memelihara asa. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa komunikasi belum terputus.
“Diskusi sedang berlangsung dan kami merasa optimistis terhadap prospek kesepakatan,” ujar Leavitt dalam konferensi pers pada Rabu (15/4/2026).
Leavitt juga mengonfirmasi peran krusial Pakistan sebagai satu-satunya mediator dalam konflik ini. Menurutnya, pertemuan tatap muka berikutnya “sangat mungkin” digelar kembali di Islamabad untuk melanjutkan progres yang sempat tertunda.
Horor di Selat Hormuz
Di balik senyum diplomasi, realitas di lapangan jauh lebih mencekam. Selat Hormuz, urat nadi energi dunia, kini nyaris lumpuh. Lalu lintas kapal tanker melambat hingga titik nadir akibat ancaman Iran dan blokade pelabuhan yang diterapkan AS.
Situasi ini menjadi batu ujian bagi gencatan senjata sementara yang baru berusia dua pekan. Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya telah memberikan peringatan keras bahwa nasib perdamaian bergantung pada kelancaran arus logistik di jalur vital tersebut.
Namun, Teheran tampak tidak gentar. Kantor berita pemerintah Fars melaporkan bahwa Iran secara resmi telah menangguhkan seluruh ekspor petrokimia mereka hingga batas waktu yang tidak ditentukan sebuah langkah yang diprediksi akan menguncang pasar energi global.
Teka-teki Gencatan Senjata
Waktu terus berdetak menuju Selasa depan, batas akhir dari gencatan senjata yang ada. Meskipun ada desas-desus tentang permintaan perpanjangan waktu, pihak Washington segera menepis kabar tersebut.
Seorang pejabat senior AS menegaskan bahwa keterlibatan mereka masih dalam tahap mencari titik temu, bukan sekadar menunda konflik.
“Amerika Serikat belum secara resmi menyetujui perpanjangan gencatan senjata. Namun, keterlibatan antara AS dan Iran masih terus berlangsung untuk mencapai kesepakatan,” tegas pejabat tersebut.
Negosiasi mendatang diharapkan mampu melampaui hasil putaran pertama yang dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance, utusan khusus Steve Witkoff, serta Jared Kushner. Kini, mata dunia tertuju pada pekan depan di Islamabad, mencari jawaban apakah diplomasi mampu menang melawan ancaman blokade dan ketegangan di Teluk Persia.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














