China Umumkan Strategi Perluas Diversifikasi Impor Energi dan Perkuat Cadangan Nasional

0
China
Ilustrasi Ekspor China.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, BEIJINGMenghadapi badai ketidakpastian global yang kian memanas, China secara resmi mengumumkan langkah strategis untuk mengamankan kedaulatan energinya. Pemerintah Negeri Tirai Bambu ini memperluas diversifikasi impor dan memperkuat cadangan nasional sebagai respons cepat terhadap situasi darurat yang dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Langkah ini bukan sekadar kebijakan administratif, melainkan sebuah manuver bertahan dari importir minyak terbesar dunia di tengah disrupsi pasokan energi global. Wakil Ketua Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC), Wang Changlin, menekankan urgensi penguatan kapasitas domestik dalam menghadapi situasi darurat.

China akan terus mendiversifikasi impor energi dan meningkatkan cadangan energi untuk membantu meningkatkan kapasitasnya dalam menghadapi situasi darurat,” ujar Wang Changlin dalam konferensi pers resmi di Beijing, Jumat (17/4/2026), sebagaimana dikutip dari Reuters.

Bertahan di Tengah Penutupan Selat Hormuz

Baca Juga :  Tim Terlemah di Dunia Berhasil Promosi: Sorotan Hasil UEFA Nations League

Dunia saat ini sedang menyaksikan lumpuhnya salah satu jalur pelayaran energi paling vital. Perang di Iran yang pecah sejak 28 Februari lalu telah memaksa penutupan Selat Hormuz, menyebabkan ratusan kapal tanker terjebak. Padahal, jalur tersebut menyumbang sekitar 20% dari total pengiriman minyak global.

Meski berada dalam kepungan krisis harga minyak dunia, Beijing mengklaim pasar energi domestik mereka masih berada dalam kendali. Wang menjelaskan bahwa ketangguhan ini adalah buah dari intervensi pemerintah yang presisi.

“Pasar energi importir minyak terbesar di dunia ini stabil berkat langkah-langkah pemerintah untuk menjaga pasokan minyak domestik guna mengatasi guncangan harga global,” tegas Wang.

Sejak konflik meletus, China telah melakukan penyesuaian plafon harga eceran bensin dan solar sebanyak tiga kali. Harga eceran bensin tercatat naik sebesar 2.275 yuan (sekitar Rp5.728.450) per ton, sementara solar naik 2.185 yuan (sekitar Rp5.501.830) per ton.

Baca Juga :  Pengusaha Galian C Tabrak Aturan dan Kangkangi Satpol PP

Namun, di balik angka kenaikan tersebut, terdapat kebijakan subsidi yang berani. Pada penyesuaian kedua dan ketiga, pemerintah China memutuskan untuk hanya menerapkan setengah dari kenaikan harga yang seharusnya terjadi berdasarkan mekanisme pasar. Langkah ini diambil untuk mengerem inflasi dan menjaga daya beli masyarakat di tengah melambungnya harga komoditas energi dunia.

Ke depan, China tidak lagi hanya ingin bergantung pada diplomasi impor. Ada pergeseran paradigma untuk lebih agresif dalam mengeksplorasi sumber daya di dalam negeri sendiri. Mandiri secara energi adalah target mutlak agar keamanan nasional tidak lagi tersandera oleh situasi geopolitik di luar negeri.

Baca Juga :  Gregoria Tunjung Bangkit, Harapkan Titik Cerah di Kejuaraan Dunia 2025

China juga akan mendorong produksi domestik secara lebih agresif dan memperluas cadangan energi untuk memperkuat keamanan energi,” tambah Wang.

Ambisi ini didukung oleh data yang solid. Tahun lalu, China mencatatkan rekor produksi minyak sebesar 4.300.000 barel per hari (bpd). Memasuki tahun 2026, tren ini justru semakin tajam di tengah kekacauan dunia. Meski volume impor pada Maret menurun secara tahunan (year-on-year), output minyak dalam negeri China justru meroket ke level tertinggi baru dalam sejarah bulanan, yakni mencapai 4.440.000 bpd.

Strategi China ini mengirimkan pesan kuat ke panggung dunia: bahwa di tengah dunia yang terfragmentasi oleh konflik, kedaulatan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh seberapa kokoh mereka membangun cadangan energi dari dalam rumah sendiri.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com