NARASITODAY.COM, BEIJING – Angin diplomasi kini bertiup kencang menuju Beijing. Iran dilaporkan tengah mendesak China untuk mengambil peran lebih dominan sebagai mediator guna mengakhiri perang dengan Amerika Serikat (AS). Tawaran yang diajukan Teheran tidak main-main yaitu Beijing berpeluang menjadi pengawas langsung cadangan uranium yang diperkaya milik Iran.
Langkah berani ini diambil di tengah kebuntuan negosiasi dengan pemerintahan Donald Trump. Meskipun gencatan senjata telah menghentikan desing peluru yang sempat mengguncang pasar minyak dunia sejak pecahnya perang pada 28 Februari lalu, meja perundingan antara Washington dan Teheran masih membeku.
Kehancuran Ekonomi dan Tekanan Diplomasi
Iran kini berada di persimpangan jalan. Sanksi dan dampak perang telah memeras ekonomi mereka hingga ke titik nadir. Mohamed Amersi, pengusaha yang memiliki kedekatan dengan negosiator Iran, mengungkapkan bahwa tekanan ekonomi yang luar biasa menjadi motor penggerak keinginan Teheran untuk melibatkan raksasa Asia tersebut.
“100%, mutlak, Iran menginginkan China. Jika China benar-benar ingin dihormati sebagai kekuatan yang sedang bangkit, mereka harus menyingsingkan lengan baju dan melakukan sesuatu,” tegas Amersi dalam konferensi di Center for China and Globalization (CCG), Beijing, pekan lalu.
Amersi menambahkan, peran China bukan tentang memihak. “Mereka perlu menyampaikan kebenaran yang pahit kepada Iran dan juga pergi ke Amerika Serikat untuk mengatakan: ‘Dengar, kami berada dalam posisi yang dipercaya oleh Iran’,” lanjutnya.
Barter Strategis di Bulan Mei
Usulan konkret yang dibawa ke meja diskusi adalah Beijing mengambil alih penjagaan uranium tingkat tinggi Iran yang kini berada pada ambang batas pembuatan senjata nuklir. Sebagai imbalannya, China diharapkan memberikan jaminan keamanan nuklir yang dikaitkan dengan investasi pembangunan masif di Iran.
Rencana besar ini diprediksi akan menjadi agenda utama dalam pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping yang dijadwalkan pada Mei mendatang. Trump sendiri memberikan sinyal positif atas keterlibatan Beijing.
“Kami bekerja sama dengan cerdas dan sangat baik!” ujar Trump awal bulan ini, meski klaimnya mengenai stabilitas penuh di Selat Hormuz belum sepenuhnya terbukti.
Para analis di Beijing melihat situasi ini sebagai peluang sekaligus risiko. Henry Huiyao Wang, pendiri CCG, menilai stabilitas Iran adalah kepentingan global.
“Jika ada keinginan di kedua belah pihak untuk tenang AS ingin tenang dan Iran juga ingin tenang mungkin sangat mudah bagi China untuk menjadi pihak ketiga yang datang dan menengahi,” jelas Wang.
Namun, pengamat seperti Shou Huisheng dari Beijing Language and Culture University mengingatkan bahwa prioritas utama China tetaplah hubungan dengan Washington. Di sisi lain, Da Wei dari Universitas Tsinghua berpendapat bahwa perang ini justru telah mengikis dominasi internasional AS.
“Pandangan saya adalah pemerintahan Trump justru memperlemah posisi internasional mereka sendiri dalam perang ini. Saya pikir Pax Americana telah diakhiri oleh Presiden Trump,” pungkas Wei.
Kini, dunia menanti apakah pertemuan di Beijing bulan depan akan melahirkan kesepakatan bersejarah, atau justru memperpanjang daftar kebuntuan diplomatik di Timur Tengah. Satu yang pasti, di tangan Xi Jinping, “kunci” gudang uranium Iran kini tengah ditawarkan.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














