Kanselir Friedrich Merz Angkat Bicara Soal Rencana Penarikan Pasukan Amerika Serikat dari Jerman

0
Friedrich Merz
Kanselir Jerman Friedrich Merz.Foto : aljazeera.com

NARASITODAY.COM, BERLINDi tengah riuh rendah isu keretakan hubungan antara Berlin dan Washington, Kanselir Jerman Friedrich Merz akhirnya angkat bicara mengenai rencana Presiden Donald Trump yang akan menarik sekitar 5.000 pasukan Amerika Serikat dari tanah Jerman.

Langkah Trump ini sempat memicu spekulasi panas bahwa penarikan pasukan tersebut merupakan bentuk “hukuman” atas ketegangan hubungan personal antara sang Presiden dengan Merz terkait konflik di Iran. Namun, di balik dinginnya suhu politik di Eropa, Merz memilih untuk meredam spekulasi tersebut dengan nada yang tenang dan rasional.

Bukan Buntut Perselisihan

Dalam wawancara dengan penyiar Jerman ARD pada Minggu (3/5/2026), Merz menegaskan bahwa perpindahan pasukan ini murni bersifat administratif dan teknis, bukan politis. Menurutnya, ribuan personel militer yang akan ditarik tersebut merupakan unit tambahan yang memang hanya ditempatkan untuk jangka pendek.

Baca Juga :  Jelang Kunjungan Presiden Jerman, Investor Negeri Panzer Dinilai Masih Lirik Potensi Besar Indonesia

“Ada kontingen tentara Amerika di Eropa yang ditempatkan oleh Joe Biden secara sementara,” kata Merz sebagaimana dikutip dari CNN. Ia menambahkan bahwa rencana kepulangan unit-unit tersebut sebenarnya sudah menjadi bahan diskusi meja bundar sejak lama.

“Rencana penarikan mereka sudah dibicarakan sejak cukup lama. Mungkin sedikit dilebih-lebihkan, tetapi ini bukan sesuatu yang baru,” paparnya, seolah ingin menunjukkan bahwa stabilitas keamanan Jerman tidak sedang terancam oleh kebijakan baru Gedung Putih.

Baca Juga :  Wabah Screwworm Kian Mengganas di Amerika Serikat, Ancaman Baru bagi Industri Peternakan

Satu Visi Terkait Nuklir Iran

Senada dengan Merz, Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius juga memberikan pernyataan yang mendinginkan suasana. Ia menyebutkan bahwa penarikan tersebut adalah sesuatu yang “sudah dapat diperkirakan” dan tidak mengejutkan otoritas pertahanan Jerman.

Meskipun Merz tidak menampik adanya gesekan pendapat dengan Trump dalam beberapa isu strategis, ia menekankan bahwa Jerman dan Amerika Serikat tetaplah sekutu karib di dalam payung NATO. Menurutnya, perbedaan pandangan adalah hal yang lumrah dalam diplomasi tingkat tinggi, namun mereka tetap berdiri di garis depan yang sama dalam isu nuklir Timur Tengah.

Baca Juga :  Papua Athletics Center Bukti Pembinaan Atletik Daerah Bisa Hasilkan Prestasi Dunia

Ia mengakui memiliki “pandangan berbeda mengenai perang ini” (konflik regional saat ini), tetapi menegaskan bahwa kedua pemimpin memiliki titik temu yang mutlak terkait ambisi militer Teheran.

“Kami memiliki tujuan yang sama, yaitu Iran tidak boleh memiliki bom atom. Dan itulah yang sedang kami upayakan bersama,” tegas Merz.

Dengan pernyataan ini, Merz berusaha meyakinkan publik bahwa meskipun gaya kepemimpinan di Washington telah berubah, fondasi kerja sama militer trans-atlantik antara Berlin dan Amerika Serikat masih cukup kuat untuk menopang keamanan Eropa.***

Editor : Alysa

Sumber : cnnindonesia.com